Ilustrasi newsroom kantor berita. (Unsplash/Felicia Buitenwerf) Mon, Oct 26, 2026 8:22 PM

AI Bisa Merangkum Berita, Bagaimana Media Lokal Menjaga Pembacanya?

AI mulai mengubah cara orang mencari berita. Bagi media lokal di Indonesia, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana berita ditemukan di Google, tetapi bagaimana membuat pembaca tetap datang ketika AI bisa langsung merangkum informasi yang mereka butuhkan.

Perubahan ini penting bagi media lokal yang mengandalkan kunjungan situs untuk menjangkau pembaca dan memperoleh pendapatan iklan digital.

Apabila pembaca bisa mendapatkan jawaban tanpa membuka artikel sumber, media perlu memikirkan kembali cara mempertahankan perhatian audiens sekaligus membangun hubungan yang lebih kuat dengan mereka.

Penggunaan AI generatif sendiri terus meningkat. Berdasarkan survei di enam negara, penggunaan AI generatif secara mingguan hampir dua kali lipat dari 2024 ke 2025, meningkat dari 18 persen menjadi 34 persen.

Penggunaan chatbot untuk mencari berita memang masih relatif rendah. Menurut Laporan Berita Digital 2026, secara global sekitar 10 persen responden menggunakannya untuk tujuan tersebut. Namun, penggunaannya jauh lebih tinggi di kalangan kelompok usia muda.

Perkembangan ini membuat sejumlah penerbit mulai memperhatikan GEO atau Generative Engine Optimization, yakni upaya mengoptimalkan konten agar lebih mudah ditemukan dan dirujuk oleh layanan pencarian berbasis AI.

Bagi pengelola media lokal, pertanyaannya bukan semata-mata bagaimana berita bisa dikutip AI. Mereka juga perlu memikirkan apa yang membuat pembaca tetap memilih situsnya, terutama ketika informasi umum semakin mudah diperoleh melalui chatbot.

Ketika AI Bisa Mengambil Informasi dari Berita

Melansir Reuters Institute, tantangan tersebut juga dihadapi Axios, media digital yang mengembangkan format berita ringkas bernama Smart Brevity.

Ben Berkowitz, yang mengawasi operasional AI di ruang redaksi Axios, mengatakan pihaknya sedang mempersiapkan diri menghadapi perkembangan ini dengan membangun reputasi sebagai media yang memiliki otoritas.

“Kami menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan semua cara kami berinteraksi dengan AI, bagaimana AI berinteraksi dengan kami, dan bagaimana kami memberi makan dan menyusun konten kami,” katanya.

Axios juga memeriksa berbagai pertanyaan yang kemungkinan diajukan pengguna dan mencatat seberapa sering kontennya muncul dalam kutipan atau jawaban AI.

Namun, upaya tersebut masih dalam tahap percobaan. Model-model LLM dapat memberikan jawaban dan kutipan berbeda meskipun menerima pertanyaan yang sama.

Karena itu, Berkowitz menilai media perlu memperjelas otoritasnya melalui keahlian, kedalaman informasi, dan penyampaian yang jelas.

“Sampai batas tertentu, Anda harus mengandalkan otoritas dan melakukan hal-hal struktural yang memperjelas otoritas Anda: kedalaman keahlian, kedalaman informasi, kejelasan informasi,” katanya.

Salah satu keunggulan Axios adalah format Smart Brevity, yang menyajikan informasi melalui paragraf pendek dan poin-poin agar pembaca lebih mudah memahami inti berita.

Namun, format yang ringkas juga menghadirkan risiko. Jika AI bisa mengambil informasi penting dari artikel dan menyajikannya sebagai ringkasan, pembaca mungkin tidak lagi merasa perlu membuka situs sumber.

Bagi media lokal, persoalan serupa bisa muncul ketika informasi dasar mengenai suatu peristiwa sudah tersedia dalam jawaban AI. Media perlu memiliki nilai lebih dari sekadar menyampaikan informasi yang sama.

Liputan yang mendalam, konteks persoalan daerah, penjelasan dari pihak terkait, dan perkembangan suatu peristiwa dapat menjadi bagian dari nilai jurnalistik yang membedakan sebuah media dari ringkasan otomatis.

Kepercayaan dan Kedekatan dengan Pembaca

Berkowitz mengatakan Axios bertaruh pada sesuatu yang lebih sulit ditiru, yakni otoritas, keahlian, dan hubungan dengan pembaca.

Bahkan ketika nama Axios disebut secara langsung dalam jawaban AI, hal itu tetap dianggap dapat memperkuat merek mereka.

“Ini bukan hanya soal lalu lintas pengunjung; ini juga soal merek,” katanya.

“Kami ingin muncul dalam kutipan pencarian. Kami ingin menjadi otoritas dalam hal-hal yang telah kami kembangkan selama lebih dari satu dekade keahliannya.”

Menurut Berkowitz, hubungan dengan pembaca juga dibangun melalui buletin, acara, dan interaksi yang berlangsung secara berkelanjutan.

Hubungan tersebut menjadi alasan audiens tetap mengikuti Axios, bahkan ketika kunjungan dari mesin pencari atau media sosial mengalami penurunan.

Pendekatan ini relevan bagi media lokal yang memiliki kedekatan dengan komunitas di wilayah liputannya. Pembaca tidak hanya membutuhkan informasi tentang apa yang terjadi, tetapi juga ingin memahami bagaimana sebuah kebijakan pemerintah daerah memengaruhi kehidupan mereka, bagaimana persoalan di lingkungannya ditangani, dan apa perkembangan dari isu yang mereka ikuti.

Kedekatan tersebut dapat menjadi kekuatan media lokal untuk membangun kepercayaan dan membuat pembaca kembali. Namun, kedekatan saja tidak cukup. Media tetap perlu menjaga kualitas, akurasi, dan kedalaman peliputan agar kepercayaan itu terus tumbuh.

Dengan demikian, tujuan media bukan hanya membuat artikelnya muncul dalam jawaban AI, tetapi juga membangun reputasi sebagai sumber informasi yang layak dipercaya.

GEO Bukan Pengganti SEO

Meski GEO mulai mendapat perhatian, penerbit tidak disarankan meninggalkan dasar-dasar optimasi mesin pencari atau SEO.

Jessie Willms, Editor SEO di The Guardian sekaligus salah satu pendiri Newsletter WTF is SEO?, mengatakan GEO seharusnya diperlakukan sebagai lapisan tambahan di atas fondasi SEO yang kuat, bukan sebagai penggantinya.

Artinya, media perlu memastikan kontennya berkualitas, struktur situsnya baik, dan artikelnya mudah ditemukan sebelum mencoba mengoptimalkan konten untuk pencarian berbasis AI.

“Saya rasa itu bukan prioritas utama jika Anda belum melakukan semua hal mendasar,” kata Willms.

Namun, perkembangan pencarian generatif tetap perlu dipantau. Media perlu memahami perubahan yang terjadi dalam cara pembaca menemukan berita, hambatan yang muncul untuk menjangkau audiens, serta peluang agar karya jurnalistik mereka dirujuk oleh AI.

Willms menilai pengamatan tersebut perlu dilakukan secara konsisten karena pencarian generatif mengubah informasi yang dilihat pembaca dan cara mereka menemukannya.

Bagi media lokal, langkah awalnya bukan harus langsung mengadopsi teknologi yang rumit. Memperkuat kualitas jurnalistik, memastikan berita mudah ditemukan, memperjelas keahlian pada isu yang diliput, dan menjaga hubungan dengan pembaca merupakan bagian dari fondasi yang tetap penting.

AI dapat membantu pembaca menemukan jawaban dengan lebih cepat. Namun, agar pembaca tetap datang, media perlu menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar informasi ringkas: peliputan yang kuat, konteks lokal yang relevan, serta reputasi yang dibangun melalui kepercayaan.