Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan kualitas jurnalisme menjadi salah satu gagasan utama Tom Rosenstiel dalam buku terbarunya, The Next Journalism: How the Press Must Change to Serve Democracy. Namun, gagasan agar media lebih agresif menggunakan AI juga mendapat kritik dari kalangan jurnalis dan peneliti media.
Dalam buku yang diterbitkan Penerbit Crown pada 18 Agustus 2026 lalu, menawarkan sejumlah perubahan yang menurut Rosenstiel perlu dilakukan media agar lebih berguna bagi masyarakat dan demokrasi.
Salah satunya memanfaatkan AI, bukan sekadar untuk menghemat biaya produksi berita, tetapi untuk memperluas kemampuan kerja jurnalistik.
Rosenstiel, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pemikir media berpengaruh dan merupakan salah satu penulis The Elements of Journalism bersama Bill Kovach, menilai jurnalisme saat ini "gagal melayani demokrasi".
Menurutnya, media perlu lebih fokus membantu masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari, bukan hanya mengejar perhatian audiens.
"Kita harus menggunakan AI dalam jurnalisme untuk membuat jurnalisme kita lebih baik, bukan sekadar membuatnya lebih murah," ujar Profesor di Philip Merrill College of Journalism, University of Maryland.
AI Bukan Pengganti Jurnalis
Salah satu gagasan yang ditawarkan Rosenstiel, yakni membangun "Internet Sipil" atau Civic Internet.
Gagasan itu mengacu pada ruang redaksi untuk menggunakan AI dalam mengumpulkan dan merangkum berbagai data publik tentang kehidupan masyarakat dalam satu pusat informasi yang terus diperbarui.
Masyarakat kemudian dapat menelusuri informasi tersebut sesuai kebutuhannya, termasuk melalui chatbot AI. Ide tersebut dinilai penting, terutama bagi media lokal yang sering memiliki keterbatasan jumlah reporter.
Ia mencontohkan data pemerintahan, misalnya, dapat terus dipantau dan diolah menjadi sumber informasi yang lebih mudah digunakan masyarakat.
Namun, Rosenstiel tidak menyarankan AI mengambil alih penulisan berita. Bahkan, ia justru melihat teknologi itu sebagai alat untuk memperluas jangkauan kerja jurnalis.
Beberapa penggunaan AI yang ditawarkan Rosenstiel antara lain mengaudit liputan untuk melihat apakah kelompok yang selama ini kurang terwakili mendapat perhatian, mengidentifikasi klaim palsu dari politisi yang kemudian dapat diperiksa fakta oleh jurnalis, serta menganalisis kebutuhan dan preferensi audiens.
Bagi Rosenstiel, AI merupakan bagian dari revolusi digital yang tidak bisa dihindari. Jika media profesional memilih menjauh, ruang tersebut berpotensi diisi oleh pihak lain yang memproduksi informasi tanpa standar dan etika jurnalistik.
Dorongan tersebut tidak berarti media harus langsung memasukkan AI ke semua bagian kerja jurnalistik.
Sejumlah ruang redaksi justru masih berhati-hati karena persoalan yang muncul dari penggunaan model bahasa besar (LLM), mulai dari informasi yang keliru atau "halusinasi", persoalan bias, hingga sengketa hak cipta.
Media besar seperti The Washington Post dan Financial Times memang telah membuat chatbot yang memungkinkan pembaca berinteraksi dengan arsip jurnalistik mereka.
Namun, eksperimen tersebut berjalan bersamaan dengan munculnya perdebatan mengenai batas penggunaan AI dalam kerja jurnalistik.
Direktur Center for Media and Digital Governance di Open Markets Institute, Courtney C Radsch, termasuk yang mengkritik gagasan penggunaan AI dalam proses editorial.
Ia menyoroti risiko operasi informasi yang menargetkan LLM serta bias ideologis yang dapat tertanam dalam sistem tersebut.
"Boleh saja menggunakan AI untuk urusan administrasi," kata Radsch.
"Namun, ide untuk menggunakannya dalam proses penciptaan dan produksi jurnalisme menurut saya sangat bermasalah. Lalu apa yang membedakan jurnalisme dengan pihak lain yang sama-sama menggunakan LLM untuk membuat konten?"
Sementara, peneliti di Reuters Institute for the Study of Journalism, Felix M Simon, juga melihat kecenderungan media Eropa yang lebih memilih penerapan AI secara "bertahap" dibandingkan perubahan besar-besaran.
Dalam praktiknya, banyak ruang redaksi masih menggunakan AI untuk pekerjaan rutin, seperti transkripsi, terjemahan, dan pembuatan judul. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa media masih menguji manfaat teknologi sebelum membawanya lebih jauh ke dalam proses jurnalistik.
Apa Artinya Bagi Media Lokal?
Perdebatan dalam buku Rosenstiel pada akhirnya bukan hanya soal apakah media harus menggunakan AI atau tidak. Pertanyaannya lebih berfokus dalam konteks untuk pekerjaan apa teknologi tersebut benar-benar berguna.
Terkait dengan gagasan Civic Internet, misalnya, bisa dibaca sebagai peluang untuk mengolah data publik yang selama ini tersebar di berbagai dokumen dan situs pemerintahan sehingga menjadi informasi yang lebih mudah digunakan masyarakat.
Sementara di sisi lain, penggunaan AI dalam proses editorial tetap membutuhkan kontrol manusia. Verifikasi, penilaian terhadap sumber, konteks, keputusan mengenai kepentingan publik, dan tanggung jawab atas isi berita tetap berada di tangan jurnalis.
Itulah titik temu dari perdebatan tersebut. Rosenstiel mendorong media untuk tidak takut terhadap AI dan memanfaatkannya untuk memperkuat jurnalisme. Sementara para pengkritiknya mengingatkan bahwa efisiensi teknologi tidak boleh mengorbankan prinsip dasar jurnalistik.
Analisis Columbia Journalism Review pada akhirnya menilai pendekatan yang paling masuk akal bagi media saat ini adalah tidak sekadar mengejar teknologi baru, tetapi mengujinya secara hati-hati dan memastikan manfaatnya benar-benar sepadan dengan risikonya. (Raisa Olivia)
© 2026 SUARA.COM - ALL RIGHTS RESERVED.