Jatim Media Summit 2026. Thu, Jul 30, 2026 6:28 PM

Bukan Cuma Hacker, Doxing hingga Pencurian Identitas Kini Jadi Ancaman Serius Media

Membangun jutaan pengikut di media sosial atau YouTube ternyata bukan satu-satunya tantangan bagi kreator konten. Ketika akun semakin besar, risiko peretasan, pencurian identitas digital, hingga doxing juga ikut meningkat.

Isu tersebut menjadi sorotan dalam Panel Discussion and Showcase Jatim Media Summit (JMS) 2026, Kamis (30/7/2026). Praktisi industri kreatif dan pemeriksa fakta mengingatkan bahwa keamanan digital kini menjadi kebutuhan mendasar bagi media maupun kreator konten untuk melindungi reputasi, bisnis, dan aset digital yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Co-Founder Rilplay Studio Surabaya, Andi Said Tandio, mengungkapkan perjalanan membangun kanal YouTube dari puluhan ribu pelanggan hingga menembus lebih dari 14,5 juta subscriber tidak lepas dari berbagai ancaman keamanan digital.

Menurutnya, tantangan terbesar seorang kreator kini bukan lagi sekadar menghasilkan konten yang menarik, tetapi memastikan seluruh aset digital tetap aman dari upaya peretasan maupun penyalahgunaan akun.

"Semua konten kreator pasti mengalami tantangan keamanan digital. Ketika akun sudah besar, ancaman juga semakin besar," ujar Andi.
Ia menceritakan, Rilplay Studio yang awalnya hanya dijalankan oleh dua orang kini berkembang menjadi studio kreatif dengan sekitar 20 tenaga profesional, mulai dari penulis naskah, editor video, animator, pengisi suara, hingga pengelola media sosial.

Menariknya, seluruh talenta tersebut direkrut dari berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Surabaya, Gresik, Kediri, hingga Madiun.

Andi juga mengungkapkan pihaknya tengah menyiapkan kanal baru berkonsep hiperlokal yang seluruh kontennya menggunakan bahasa Jawa dialek Suroboyoan. Berdasarkan uji pasar yang telah dilakukan, konten berbahasa lokal justru mendapat respons yang sangat tinggi dari penonton.

"Target kami pada 2027 bisa meluncurkan channel baru dengan seluruh talenta berasal dari Jawa Timur," katanya.
Sementara itu, Trainer Cek Fakta, Artika Farmita, menegaskan ancaman terbesar terhadap media maupun kreator konten justru kerap muncul akibat kelalaian pengguna dalam menjaga digital hygiene atau kebersihan digital.

Menurutnya, banyak kreator baru mulai memikirkan keamanan setelah memiliki jutaan pengikut. Padahal, perlindungan akun seharusnya dilakukan sejak awal.

"Kalau kesehatan fisik dijaga setiap hari, maka kesehatan digital juga harus diperlakukan sama. Jangan menunggu terkenal baru peduli keamanan akun," ujarnya.
Artika menjelaskan bahwa serangan digital saat ini tidak hanya berupa peretasan, malware, atau serangan DDoS terhadap situs web, tetapi juga berkembang menjadi serangan nonteknis seperti doxing, impersonasi, trolling, hingga kriminalisasi yang dapat merusak kondisi psikologis sekaligus reputasi seseorang.

Ia mengingatkan bahwa kehilangan akses akun bukan sekadar kehilangan pendapatan dari monetisasi, tetapi juga dapat memaksa kreator membangun kembali audiens dari nol.

Karena itu, ia mendorong media dan kreator untuk menerapkan langkah-langkah dasar keamanan digital, seperti mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA), menggunakan kata sandi yang kuat, memperbarui sistem operasi secara berkala, memasang antivirus dan firewall, menggunakan VPN untuk pekerjaan berisiko tinggi, serta memisahkan akun pribadi dan akun profesional.

Menurutnya, pengelolaan aset digital juga harus dilakukan secara profesional, terutama ketika sebuah media atau kanal YouTube sudah melibatkan banyak admin. Kasus hilangnya akses akun karena mantan admin masih menyimpan kata sandi, kata dia, masih sering terjadi di berbagai organisasi media maupun perusahaan kreatif.

Selain itu, seluruh data penting sebaiknya memiliki sedikitnya tiga salinan, yakni di perangkat utama, media penyimpanan eksternal, dan layanan cloud untuk mengantisipasi serangan siber.

Artika juga mengingatkan media agar tidak hanya fokus pada proses peliputan, tetapi mulai melibatkan tim teknologi informasi sejak tahap perencanaan liputan, terutama ketika mengangkat isu-isu sensitif. Langkah tersebut penting untuk mengantisipasi kemungkinan serangan siber, pelaporan massal terhadap akun media, hingga upaya peretasan situs web.

Bagi korban serangan digital, ia menyarankan agar segera mengamankan akun dengan mengganti akses, mencabut izin perangkat asing, mengaktifkan kembali verifikasi berlapis, serta memanfaatkan dukungan organisasi seperti SAFEnet, AJI, LBH Pers, maupun Yayasan Pulih apabila mengalami doxing atau tekanan psikologis akibat serangan digital.

"Keamanan digital bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Semakin besar akun dan pengaruh seseorang, semakin besar pula risiko yang harus diantisipasi," tegas Artika.