Dominasi media sosial dan platform video telah merogoh ulang lanskap konsumsi berita secara fundamental. Fenomena "platformisasi" membuat jurnalisme institusional tak lagi menjadi muara tunggal informasi.
Audiens—terutama generasi muda—kian berpaling ke influencer dan kreator konten yang dianggap lebih hangat, relatable, dan menghibur. Namun, di tengah pergeseran arus global ini, beberapa organisasi berita justru membuktikan bahwa keintiman dengan audiens masih bisa dirawat.
Mengutip Reuters Institute, kuncinya sederhana namun menantang, yakni meninggalkan pendekatan one-size-fits-all dan mulai memetakan audiens secara spesifik.
Jaringan podcast Goalhanger, misalnya, sukses memikat pendengar melalui lini “The Rest Is…”. Editorial Director Goalhanger, Kent Smith, menegaskan pentingnya keunikan konten untuk kelompok tertentu.
“Orang yang mendengarkan The Rest is History selama berjam-jam itu orang pintar, tapi mereka belum tentu suka nonton berita yang umum,” ujarnya.
Bagi Kent, tiap program diperlakukan layaknya lini bisnis independen.
“Setiap acara kami itu seperti bisnis. Jadi, acara sejarah punya target pendengar yang sangat berbeda dengan acara sains atau hiburan,” tambahnya.
Prinsip artikulasi audiens ini juga diterapkan majalah Fortune. Menurut Executive Editorial Director UK & Europe Fortune, Kamal Ahmed, fokus mereka adalah “Audiens yang termotivasi oleh kesuksesan bisnis dan keinginan untuk selalu selangkah lebih maju.”
Dibanding mengejar berita massal bernada sensasional, Fortune memilih menyajikan layanan menyeluruh—mulai dari majalah cetak, buletin terspesialisasi, hingga acara eksklusif.
“Kami memiliki proporsi yang sangat jelas untuk audiens kami, dan kemudian apa yang kami sebut penyediaan layanan lengkap,” ungkapnya.
Di ranah kantor berita global, tantangan segmentasi ini terasa lebih kompleks. Executive Editor Reuters, Simon Robinson, mengakui bahwa menjangkau khalayak luas kini jauh lebih berat karena informasi mendalam melimpah di internet.
“Menawarkan konten untuk masyarakat luas lebih sulit karena mereka bisa mendapatkan apapun yang diinginkan dan jauh lebih mendalam secara online sekarang,” tutur Robinson.
Atas dasar itu, Reuters mulai memilah pembaca ke dalam kelompok-kelompok kecil berbasis preferensi tanpa mengorbankan independensi dan kualitas jurnalisme.
Platform, Monetisasi, dan Nilai Otentisitas
Tantangan tak berhenti pada soal konten, melainkan juga strategi distribusi dan monetisasi. Kent menekankan fleksibilitas platform dengan mengusung konsep agnostic—memberi kebebasan penuh bagi pembaca atau pendengar.
“Kami tidak terikat platform dan memberi kebebasan dalam menonton. Kita perlu memberikan mereka pilihan dan tidak membatasinya,” katanya.
Namun, mengandalkan media sosial seperti TikTok sebagai mesin monetisasi atau pintu masuk pelanggan berbayar bukanlah perkara gampang. Mengira audiens muda di media sosial otomatis mau berlangganan berita adalah asumsi keliru.
“Tapi mungkin ini terjadi pada sebagian konsumen berita saja, saya rasa hal itu tidak akan terjadi seperti yang biasa kita lihat di masa lalu,” kata Robinson.
Kendati demikian, tingginya penetrasi kreator berita di media sosial tidak sepenuhnya menjadi ancaman.
Lead Author Digital News Report (DNR) 2026, Jim Egan, menilai bertahannya minat publik terhadap isu terkini di tengah gempuran hiburan cepat justru sinyal positif.
“Anda mungkin berpendapat bahwa mengingat lingkungan yang sangat kompetitif yang dihadapi orang-orang saat mereka berada di media sosial. Sebenarnya berita berjalan cukup baik, mengingat berbagai pilihan lain lebih memuaskan secara instan dan cara mereka menghabiskan waktu,” katanya.
Keunggulan utama para kreator adalah kedekatan emosional dan otentisitas—hal yang kerap diabaikan media arus utama.
“Menurut saya, banyak penonton saat ini mencari keaslian, kedalaman, dan hal-hal yang tidak dapat mereka temukan di tempat lain. Jadi saya rasa kami memiliki keunggulan nyata dalam hal itu,” paparnya.
Dilema inilah yang kini dihadapi media tradisional seperti Reuters.
“Tantangan bagi kami adalah mempertahankan standar jurnalistik kami sendiri, tetapi juga menemukan cara cerdas untuk menarik perhatian orang sehingga kami lebih mudah dipahami dan mungkin lebih menghibur sekaligus mudah diakses,” ungkap Robinson.
Meski begitu, jurnalisme institusional tidak akan kehilangan panggung. Saat situasi krisis seperti pandemi, publik terbukti kembali mencari media tepercaya karena menyangkut informasi keselamatan jiwa.
“Dalam situasi tersebut, ini adalah masalah hidup dan mati, sehingga keterlibatan yang sangat tinggi dan kepercayaan juga cukup tinggi karena Anda tahu informasi itu penting,” katanya.
Pada akhirnya, Robinson menilai tugas besar media hari ini adalah menyadarkan publik bahwa berita bermutu punya dampak riil pada keseharian mereka, sehingga mereka tergerak untuk aktif mencari sumber yang akurat.
© 2026 SUARA.COM - ALL RIGHTS RESERVED.