Ilustrasi editor di ruang pemberitaan media. (pixabay/pixelcreatures) Fri, Oct 16, 2026 11:36 AM

Tak Hanya Sekadar Klik, Ini Alasan Media Lokal Perlu Lirik GEO agar Dikutip AI

Kehadiran platform kecerdasan buatan (AI) yang mampu merangkum informasi secara instan membawa tantangan tersendiri, salah satunya yakni artikel yang dikutip oleh AI belum tentu mendatangkan kunjungan pembaca ke situs.

Permasalahan tersebut memaksa pengelola dan pemilik media, termasuk di ranah lokal, untuk segera beradaptasi. 

Meski demikian, merapikan strategi SEO saja tidak cukup. Media kini harus mulai memahami Generative Engine Optimization (GEO) agar kontennya tetap ditemukan pembaca.

Mesin pencari konvensional biasanya hanya menampilkan daftar tautan. Berbeda halnya dengan platform AI yang langsung mengumpulkan, merangkum informasi dari berbagai sumber, lalu menampilkan ringkasannya beserta daftar rujukannya.

Lantas, bagaimana caranya agar penerbit media bisa meningkatkan peluang artikel mereka dikutip oleh AI?

Selama ini, melalui praktik SEO dan media sosial, redaksi bisa dengan mudah membedah performa konten. 

Mulai dengan penggunaan kata kunci, struktur artikel, hingga topik incaran pembaca yang bisa dievaluasi dengan jelas melalui data analitik.

Sayangnya, dalam mesin pencarian berbasis AI, prosesnya tidak sesederhana yang digambarkan. 

Meski pengelola media bisa melihat informasi yang dicari dan hasil yang keluar, namun cara AI menyeleksi dan mengolah sumber-sumber tersebut masih menjadi misteri.

"Saya telah melihat banyak sekali buku panduan, banyak di antaranya berisi saran yang saling bertentangan," kata Direktur AI in Media di World Association of News Publishers (WAN-IFRA), Ezra Eeman mengutip Reuters Institute.

"Jika memantau sumber mana yang memiliki peringkat tinggi dalam kutipan, Anda akan melihat bahwa peringkatnya sangat berfluktuasi. Pada satu titik itu adalah Wikipedia, kemudian Reddit, lalu YouTube. Setiap bulan tampaknya ada favorit baru, dan itu tidak sama di berbagai platform."

Tak hanya itu, ia menjelaskan bahwa setiap platform AI memprioritaskan sumber yang berbeda karena sistem pencarian mereka pun tak sama. 

Sehingga berimbas pada model bahasa besar (LLM) yang cenderung hanya mengutip segelintir sumber-sumber raksasa. Hal inilah yang menyulitkan penerbit skala kecil dan lokal untuk menembus pasar.

"Kita memiliki sangat sedikit data di seluruh industri sehingga hal itu benar-benar menjengkelkan," kata Director of Global SEO and AI Search di The Athletic, Shelby Blackley.

“Ini seperti kotak hitam yang tidak jelas tentang apa yang berhasil dan apa yang tidak. Semuanya berubah secara konsisten.”

Konsultan SEO dan audiens, Clara Soteras, membenarkan bahwa belum ada rumus pasti untuk membuat konten lebih mudah dikutip oleh AI. 

Meski begitu, pengelola media tetap bisa mempelajari polanya dengan berani menguji berbagai strategi dan rajin memantau penyebutan merek (brand mention) mereka.

Beberapa riset juga membuktikan bahwa tidak ada satu strategi GEO yang paten untuk semua platform AI. Kendati demikian, konten dengan informasi terbaru, relevan, serta didukung data statistik dan kutipan tokoh dinilai punya peluang lebih besar untuk dijadikan sumber.

Penting untuk diingat bahwa hasilnya akan selalu bervariasi. Platform seperti ChatGPT, Gemini, maupun Perplexity memiliki kecenderungan masing-masing dalam menyaring informasi.

Hal ini menjadi bukti bahwa ilmu GEO masih akan terus berkembang. Berbeda dengan taktik SEO yang sudah terpetakan rapi, media masih diwajibkan untuk memperbanyak eksperimen demi menemukan racikan yang paling pas.

"Tidak ada yang memiliki tongkat ajaib, tetapi berbagai alat memungkinkan Anda untuk memantau merek Anda," kata Soteras.

Soteras sangat menekankan agar organisasi berita dan ruang redaksi segera mengubah pola pikir mereka dalam menghadapi ekosistem digital baru ini.

"KPI perlu diubah. Banyak ruang redaksi masih berbasis pada pengguna unik dan tampilan halaman, sementara penyebutan dalam Ikhtisar AI, misalnya, tidak menghasilkan klik. Oleh karena itu, metrik tersebut perlu diubah." (Raisa Olivia)