Peran ibu di era digital tak lagi hanya sekadar mengawasi anak bermain gawai. Selain dituntut mengurus anak, mereka juga memiliki perna lain dalam pilar keluarga, yakni turut menangkal berbagai risiko penipuan daring hingga pencurian data pribadi.
Isu spesifik ini yang kemudian dibidik serius DigitalMamaID, media yang konsisten mengusung literasi digital dari kacamata perempuan dan keluarga.
Editor-in-Chief DigitalMamaID, Catur Ratna Wulandari menceritakan perjalanan DigitalMamaID yang mulai hadir sejak 2017 dan secara pengelolaan dirapikan kelembagaannya pada tahun 2021.
Ia mengungkapkan bahwa DigitalMamaID lahir dari keresahan nyata. Pemicunya hadir dalam sebuah tuntutan zaman kekinian, perempuan harus cepat beradaptasi dari era analog ke digital, terutama saat memasuki fase menjadi seorang ibu.
“Kami nggak bisa nanya ke orang tua gimana membesarkan anak di era digital itu kayak gimana. Karena zamannya berbeda. Jadi ada kebutuhan untuk belajar lebih banyak soal literasi digital,” ujar Ratna.
Literasi dan Pemberdayaan
Literasi digital menjadi pilar utama redaksi DigitalMamaID. Namun, pembahasannya melampaui sekadar kemampuan teknis memakai teknologi. Media ini fokus menyiapkan perempuan agar siap menghadapi berbagai persoalan di ruang digital.
Kerap, ibu menjadi pihak yang disalahkan saat terjadi persoalan keluarga yang berkaitan dengan anak. Sementara di sisi lain, masih ada stigma bahwa perempuan kurang memahami teknologi.
Dasar itulah yang kemudian membuat DigitalMamaID ingin mendobrak hal tersebut dengan mendorong kemandirian perempuan.
“Jadi ini bagian dari mempersenjatai diri sebagai perempuan, sebagai ibu,” kata Ratna.
Tak hanya literasi digital, redaksi juga menggarap isu perempuan, parenting, keuangan, dan lingkungan. Dalam isu ekonomi digital, perempuan didorong mengambil peran strategis.
Sementara untuk isu lingkungan, internet dimanfaatkan dengan mengajak ibu lebih peduli pada alam.
Menurutnya, audiens DigitalMamaID memiliki segmentasi yang jelas. Audiensnya didominasi perempuan di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Sedangkan untuk media sosial dan komunitasnya, mayoritas ibu berusia 25 hingga 35 tahun, dengan anak usia balita hingga 7 tahun.
Merawat Komunitas Lewat Ruang Ramah Ibu
Selain di dunia digital, DigitalMamaID juga aktif merawat audiens melalui media sosial, grup WhatsApp, workshop, webinar, hingga talkshow. Pun mereka juga menggelar pelatihan "Digital Queen" bagi ibu-ibu di daerah.
Satu hal menarik dari strategi komunitas mereka adalah pendekatan pada kendala audiens. Banyak perempuan ragu ikut acara luring karena masalah izin suami atau absennya pengasuh anak.
Menjawab hal itu, DigitalMamaID merancang kegiatan yang ramah ibu dan anak. Anak bisa ikut hadir dan diberi ruang bermain khusus. Dengan begitu, ibu bisa fokus mengikuti jalannya acara.
Sementara untuk isu parenting dan keseharian, pada akhirnya menyentuh ranah kesetaraan gender, relasi keluarga, hingga kekerasan terhadap perempuan.
Ratna menilai, urusan mengasuh anak tidak bisa hanya dibebankan pada ibu. Peran ayah mutlak diperlukan.
“Kalau mau dampaknya lebih besar maka ya harus ibu dengan bapaknya. Satu keluarga,” ujarnya.
Ke depan, media ini berencana memperluas pelibatan tersebut. Redaksi mulai melihat pentingnya menghadirkan sosok ayah dalam berbagai pembahasan keluarga dan ruang digital.
Tak Sekadar Mengejar Tren
Sementara dari sisi keredaksian, DigitalMamaID memiliki sikap tegas, tak semata mengejar setiap tren viral, tetapi lebih selektif dalam menentukan isu.
“Jadi nggak semua tren kita bahas. Dan kita biasanya lihat sejauh mana berdampak buat perempuan,” kata Ratna.
Masih menurut Ratna, redaksi kerap mempertimbangkan kemungkinan suatu isu perlu diberi porsi lebih dari kacamata perempuan.
Ia mencontohkan dalam kasus kekerasan terhadap perempuan.
Fokus redaksi tidak berhenti pada kasusnya saja. Mereka sangat menjaga bagaimana identitas, kenyamanan korban, dan representasinya ditampilkan dalam konten.
Bagi DigitalMamaID, persoalan digital kini menyatu dengan keseharian. Keamanan digital menjadi isu krusial bagi ibu, anak, dan keluarga seutuhnya.
“Bullying di media sosial, itu bisa beralih ke dunia nyata, ke kehidupan nyata kita. Sebaliknya, hal-hal yang terjadi di kehidupan nyata kita juga berkoneksi langsung dengan digital,” jelas Ratna.
Ratna juga menyoroti posisi strategis ibu saat ini. Mereka berada di tengah dua generasi. Ibu harus mendampingi anak yang semakin lekat dengan teknologi, sekaligus membimbing orang tua yang masih gagap digital.
Situasi ini memunculkan kerentanan berlapis. Keluarga rentan terhadap penipuan, manipulasi emosional, hingga kelalaian penggunaan kartu kredit oleh anak.
Melalui penyajian konten jurnalistik dan aktivasi komunitasnya, DigitalMamaID memposisikan literasi digital bukan sekadar kepiawaian memakai gawai, tetapi sebagai bekal wajib bagi perempuan menjaga keluarga di tengah pusaran risiko era digital. (Raisa Olivia)
© 2026 SUARA.COM - ALL RIGHTS RESERVED.