Dalam era kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence atau AI, dominasi kreator konten independen, dan anjloknya trafik web, media massa di seluruh dunia menjadi perhatian Utama, sehingga pengelola media kini dipaksa memutar otak.
Pasalnya di masa seperti saat ini, mengandalkan klik saja tidak lagi cukup untuk bertahan hidup.
Persoalan itu mengemuka dalam ajang Future of Media Technology Conference yang digelar oleh Press Gazette di London pada 10 September lalu, para eksekutif media, jurnalis, dan pakar teknologi berkumpul untuk mencari jalan keluar.
Mengutip laporan Reuters Institute, ada lima catatan penting mengenai bagaimana penerbit berita global untuk meredefinisi metode dalam merangkul audiens saat ini:
1. Tinggalkan Biasa Mengejar Klik, Fokus Bangun Hubungan di Era 'Google Zero'
Tren penurunan trafik dari mesin pencari yang terjadi saat ini, memaksa kantor berita mulai meninggalkan metrik volume (seperti jumlah klik) dan beralih pada upaya membangun hubungan jangka panjang.
Sebab, metrik seperti unduhan aplikasi, frekuensi kunjungan, dan pendaftaran newsletter kini dinilai jauh lebih krusial.
Hal tersebut seperti diungkap Chief Support Officer The Guardian, Liz Wynn. Ia menekankan pentingnya membuat pembaca memahami alasan media itu ada.
"Anda membangun motivasi, dukungan, dan pemahaman yang kuat tentang misi serta tujuan kita. Ini adalah pendorong emosional yang sangat penting, tapi itu saja tidak cukup. Kita juga harus fokus membangun kebiasaan dan memberi alasan bagi orang-orang untuk kembali setiap harinya," katanya.
Tak hanya itu, AI juga mulai dimanfaatkan untuk memuluskan strategi tersebut. Seperti disampaikan Anna Sbuttoni dari The Times yang mengungkapkan bahwa timnya menggunakan AI untuk melakukan pekerjaan moderasi komentar.
"Pekerjaan moderasi memang tetap diawasi manusia, namun AI berhasil memangkas beban kerja tersebut secara drastis. Hal ini membebaskan tim kami untuk mengerjakan program berbasis komunitas yang jauh lebih menarik dan inovatif," ungkapnya.
2. Media Mulai Mencetak 'Kreator' Internal
Media arus utama atau media legasi kini beradaptasi mengadopsi taktik kreator konten, sembari tetap menjaga muruah dan otoritas jurnalistiknya.
Perubahan tersebut terjadi di media The Economist. Selama puluhan tahun, media tersebut dikenal anonym. Namun, kini mulai menonjolkan wajah dan kepribadian jurnalisnya hal itu yang kemudian menjadi salah satu cara mereka merespons invasi AI.
"Langkah ini membangun sebuah koneksi. Kami melihat banyak pelanggan yang ingin tahu apa saja yang dilakukan jurnalis kami dan memahami bagaimana ruang redaksi itu bekerja," ujar Editor Eksekutif The Economist, Andrew Palmer.
Sementara di sisi lain, The Guardian membentuk "Guardian Studios" untuk memproduksi konten YouTube berbasis personalitas jurnalisnya. Leah Green, pimpinan inisiatif tersebut, mengingatkan media agar tidak sekadar mengekor.
"Terkadang ada kepanikan dari media arus utama. Kita memang bisa belajar dari ekonomi kreator soal membangun persona dan fandom (basis penggemar)," tutur Green.
"Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah dimiliki kreator individu, yaitu nama besar (brand). Adalah sebuah kesalahan jika kita mencoba sepenuhnya mereplikasi ekonomi kreator."
3. Beradaptasi di Tengah Belantara Pencarian AI
Perubahan algoritma pencarian seperti Google AI Overviews berdampak pada tergerusnya trafik secara drastis. Direktur Reuters Institute, Mitali Mukherjee, menyebut situasi ini memicu kekhawatiran nyata.
"Ada ketegangan yang nyata terkait apa yang terjadi dalam kemitraan platform dan dampaknya pada hubungan media dengan audiens. Kita belum melihat pertanda pasti tentang apa yang sebenarnya akan terjadi," ucap Mukherjee.
Namun, Chief Technology Officer News UK, Tom Jackson, menekankan pentingnya media memperkaya sistem data di belakang layar agar tetap relevan di era AI.
"Hal yang menarik adalah bahwa metadata yang lebih kaya akan menjadi semakin penting. Akan sangat menarik untuk kembali membuka 'kotak' tentang tagging dan metadata di dunia baru yang berpusat pada agen AI ini," jelasnya.

Terkait maraknya platform AI yang mengambil konten berita, industri media sepakat untuk tidak menjual karya mereka dengan harga murah. Beberapa media memilih jalur hukum jika kompensasinya tidak adil.
Tom Jackson dari News UK, misalnya, mengambil pendekatan tegas soal lisensi.
"Idealnya, kami ingin menjalin hubungan dengan semua perusahaan AI ini dan mendapatkan nilai yang sepadan. Namun, jika mereka datang dan mencuri konten kami, kami akan menuntut mereka," tegas Jackson.
"Ini bukan sekadar soal nilai uang dari kesepakatan itu, tetapi juga soal kemampuan kita memiliki hubungan langsung dengan organisasi-organisasi (AI) tersebut."
Carly Stevens, Direktur SEO Daily Mail, menambahkan bahwa konten jurnalistik mereka tidak bisa digantikan oleh mesin. "Kami sangat fokus pada keyakinan mutlak bahwa bisnis kami bernilai, dan nilai tersebut harus dibayar," katanya.
5. Newsletter Tetap Menjadi Primadona Masa Depan
Sementara di tengah kecanggihan teknologi, perangkat klasik newsletter (buletin surel) justru keluar sebagai pemenang. Newsletter terbukti mampu membangun hubungan langsung tanpa tunduk pada algoritma media sosial.
David Skok, CEO media bisnis The Logic (Kanada), memperlakukan newsletter harian mereka layaknya "halaman depan" sebuah koran cetak.
"Kami memperlakukan newsletter sebagai produk utamanya sendiri. Sejak awal, kami telah memutuskan bahwa kami tidak akan membangun bisnis yang semata-mata bergantung pada algoritma," jelas Skok.
Katie Palisoul dari Politico UK juga membeberkan rahasia sukses newsletter legendaris mereka, Politico Playbook. Rahasianya, yakni menulis untuk satu sosok spesifik.
"Playbook ditulis dengan membayangkan target pembaca yang pasti: misalnya seorang perdana menteri atau menteri kabinet... Namun, para penulis kami menganggap mereka sebagai 'manusia', bukan sekadar pejabat," ujarnya.
"Gaya bahasanya menyenangkan, agak nakal, penuh humor, dan merekomendasikan di mana mereka bisa minum-minum santai setelah kerja. Ini benar-benar fokus pada keseharian individu tersebut." (Raisa Olivia)
© 2026 SUARA.COM - ALL RIGHTS RESERVED.