Dalam beberapa putaran diskusi keberlanjutan media, mulai dari Jatim Media Summit di Surabaya hingga rangkaian roadshow komunitas media lokal di Makassar dan Pekanbaru, kegelisahan mendominasi ruang obrolan pengelola media yang nyaris kerap bermuara pada traffic yang merosot tajam dan audiens muda yang makin berjarak.
Keresahan itupun menemukan pembenaran, saat menengok langsung dinamika di akar rumput.
Praktik di lapangan, seperti saat memfasilitasi kelas-kelas literasi jurnalisme dan kecerdasan buatan (AI) generasi muda di Wonosobo, misalnya, memperlihatkan realitas yang nyata, generasi Z sama sekali tidak apatis terhadap informasi kedaerahan.
Mereka hanya menolak cara media arus utama menyajikannya.
Model bisnis yang terlalu lama ditopang 'jurnalisme rilis', hanya sekadar memproduksi ulang siaran pers instansi demi menjaga relasi APBD atau menguntit seremoni pejabat, kini menemui jalan buntu. Pasalnya, Gen Z menuntut relevansi, interaksi, dan yang paling Utama, penceritaan visual yang autentik.
Pergeseran tersebut terkonfirmasi dalam Indonesia Gen-Z Report dari IDN Research Institute.
Dari laporan tersebut mencatat 73 persen anak muda Indonesia kini menjadikan platform media sosial sebagai kanal utama mereka mengakses informasi harian.
Praktis, mesin pencari berbasis teks yang puluhan tahun bergantung pada klik bagi portal berita daring perlahan mulai ditinggalkan.
Dalam forum Fortune Brainstorm Tech pada 2022 silam, Senior Vice President Google, Prabhakar Raghavan, membongkar temuan internal mereka yang menjadi alarm bagi lanskap digital global.
"Dalam studi kami, hampir 40 persen anak muda, ketika mereka mencari tempat untuk makan siang atau mengeksplorasi suatu kawasan, mereka tidak menggunakan Google Maps atau Search. Mereka langsung pergi ke TikTok atau Instagram," papar Raghavan.
Tidak Jadi Rujukan Pertama
Ketika mesin pencari tak lagi jadi rujukan pertama, ruang redaksi media lokal dipaksa bertarung di arena algoritma visual yang sangat mengedepankan karakter.
Dalam momentum peluncuran Indonesia Gen Z Report, Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis, menyoroti penolakan audiens muda jika hanya diposisikan sebagai konsumen pasif.
"Anak muda tidak lagi sekadar menelan informasi. Mereka memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan pendapatnya, memengaruhi wacana publik, dan menuntut pengambilan keputusan yang berdampak langsung pada keseharian mereka," jelasnya.
Tuntutan untuk terlibat inilah yang membuat gaya birokratis media lokal makin kehilangan pijakan. Audiens lebih memilih menyimak kreator lokal yang bercerita di depan kamera dengan dialek yang akrab, ketimbang membaca ribuan kata laporan yang kaku.
Fenomena ini terekam jelas dalam Reuters Institute Digital News Report (DNR). Pasalnya pada platform visual, 44 persen audiens lebih menaruh perhatian pada influencer atau kreator independen, sedangkan untuk akun jurnalis atau media formal hanya menarik atensi 25 persen pengguna.
Peneliti Senior Reuters Institute, Nic Newman, kerap menggarisbawahi krisis koneksi tersebut.
"Gen Z mencari berita yang terasa lebih mudah diakses, personal, dan disajikan oleh figur yang mereka anggap autentik, bukan institusi yang kaku," katanya.
Kondisi stagnasi kepercayaan publik terhadap berita di Indonesia, yang berdasarkan DNR terhenti di angka 32 persen, mau tak mau membuat ruang redaksi lokal tak punya banyak pilihan, selain merombak kultur operasionalnya.
Pada titik tersebut, pemanfaatan tools AI akhirnya menjadi strategis, bukan untuk menggantikan peran wartawan, melainkan untuk mengefisienkan pekerjaan mekanis.
Urusan transkripsi atau bedah data mentah tentuntya menjadi terbantu dengan keberadaan AI, sehingga jurnalis lokal memiliki kemewahan waktu untuk memroduksi karya jurnalistik visual yang relevan dengan komunitasnya.
Hingga akhirnya, transformasi adalah soal mengembalikan ruang redaksi ke muruah aslinya.
Meski begitu, catatan yang menarik pada saat ini menegaskan bahwa masa depan media lokal tidak lagi ditentukan seberapa banyak kuota artikel harian di CMS mereka, melainkan seberapa hadir dan bergunanya jurnalisme mereka dalam percakapan nyata warganya.
© 2026 SUARA.COM - ALL RIGHTS RESERVED.