Ilustrasi media lokal. (Unsplash/Matthew Guay) Mon, Nov 2, 2026 7:58 PM

Era Baru Pencarian: Saatnya Media Lokal Jadi Penguasa Jawaban AI

Media online tidak lagi sekadar dituntut untuk mengejar jumlah klik, tetapi juga berupaya agar namanya direkomendasikan oleh sistem kecerdasan buatan (AI). Bagi pengelola media lokal di berbagai daerah di Indonesia, menyajikan informasi spesifik kedaerahan menjadi peluang strategis agar tetap relevan dan dilirik oleh audiens maupun mesin pencari.

Perilaku pembaca dalam mencari informasi kian berubah. Merujuk pada data Reuters Institute Digital News Report, audiens di Indonesia menunjukkan tren penurunan dalam mengakses situs berita secara langsung dan lebih mengandalkan mesin pencari atau platform pihak ketiga.

Pada era pencarian berbasis AI ini, artikel yang menjadi sumber rujukan tidak selalu mendatangkan kunjungan situs. Sebuah riset dari Pew Research Center pada Maret 2025 menemukan bahwa hanya 1 persen dari 68.000 pencarian Google yang menghasilkan klik ke sumber tautan dalam ringkasan AI.

Meskipun potensi trafik yang didapat relatif kecil, para pakar melihat adanya keuntungan lain dari kemunculan nama penerbit di dalam respons AI.

Menurut Direktur AI WAN-IFRA, Ezra Eeman, masuknya media sebagai rujukan AI dapat membantu meningkatkan kesadaran merek, menarik audiens baru, dan memperkuat posisi media ketika berbicara mengenai lisensi atau kerja sama dengan perusahaan pengembang AI.

“Jika Anda melihat bahwa Anda selalu menjadi jawaban atas suatu pertanyaan, bahwa Anda adalah otoritas tertinggi, itu memberi Anda kekuatan tawar-menawar untuk pergi ke para LLM dan berkata, 'Kami ada dalam 80 persen jawaban. Kami selalu ada. Anda membutuhkan kami,'” katanya.

Sejauh ini, visibilitas rujukan AI mayoritas masih terpusat pada penerbit besar. Sistem seperti ChatGPT, Google, hingga Perplexity kerap menjadikan media berskala global seperti Reuters, BBC, New York Times, dan Guardian sebagai kutipan utama.

Kondisi ini lantas memunculkan tantangan tersendiri bagi nasib media kecil.

Merespons hal tersebut, Eeman menjelaskan bahwa penerbit lokal memiliki keunggulan dalam mengumpulkan informasi khusus kedaerahan yang tidak dapat dijangkau oleh organisasi berita yang lebih besar.

Alih-alih bersaing pada isu berita yang disiarkan oleh ratusan media lain, peluang penerbit lokal justru terletak pada kemampuan menjawab pertanyaan spesifik. Hal ini akan menunjukkan bahwa media tersebut merupakan salah satu dari sedikit sumber otoritas.

“Bagi penerbit kecil, ini tentang pertanyaan-pertanyaan yang dapat mereka jawab secara unik,” katanya.

“Jika Anda adalah satu-satunya sumber di dunia yang memiliki jawaban tentang sesuatu yang sangat lokal, hanya ada beberapa sumber yang memiliki informasi tersebut dan kemudian Anda akan ditemukan dan dikutip.”

Kalangan editor sepakat bahwa penerbit perlu memetakan di mana audiens mereka mencari informasi, bahkan jika pencarian AI tersebut tidak menghasilkan trafik.

Direktur SEO Global & Pencarian AI di The Athletic, Shelby Blackley mencontohkan, kemunculan nama media di dalam ringkasan AI dapat membangun pengenalan merek yang berpotensi mendorong audiens untuk kembali di kemudian hari.

“Apakah menurut saya itu benar? Sama sekali tidak,” kata Blackley.

“Tetapi pencarian sedang berubah sebagai sebuah perilaku. Orang-orang menggunakan ringkasan AI untuk mengorientasikan diri mereka, dan sumber-sumber yang ditampilkan menciptakan koneksi psikologis: 'Oh ya, saya ingat merek itu,' atau 'Saya membaca ini di sana.' Itu dapat menciptakan hubungan yang mengarah pada kunjungan kembali atau navigasi langsung.”