Selama dua dekade terakhir, industri media digital berlomba mengejar klik, trafik, dan impresi. Namun, hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mengubah seluruh aturan permainan. Ketika mesin kini mampu menyajikan jawaban langsung kepada pengguna tanpa mengarahkan mereka ke situs berita, satu hal justru semakin bernilai: kepercayaan.
Gagasan itu menjadi benang merah yang mengemuka dalam sesi penutup Jatim Media Summit (JMS) 2026, Kamis (30/7/2026). Para pembicara sepakat bahwa masa depan media tidak lagi ditentukan oleh banyaknya pembaca, melainkan kemampuan menjaga akurasi, independensi, dan kredibilitas di tengah banjir informasi.
Chief Content Officer KapanLagi Youniverse Wensesiaus Manggut mengatakan AI bukan sekadar teknologi baru, melainkan titik balik bagi industri media untuk kembali menjalankan fungsi utamanya.
"AI justru menjadi jalan pulang jurnalisme," ujarnya.
Menurut Manggut, selama ini Google dan media sosial menjadi pintu masuk utama pembaca ke situs berita. Kini pola itu berubah karena platform AI memberikan jawaban secara instan tanpa harus mengirimkan pengguna ke media asal.
Akibatnya, media, kreator konten, hingga influencer menghadapi tantangan yang sama. Karya mereka menjadi sumber data bagi AI, sementara jumlah kunjungan ke situs terus tergerus.
Dalam situasi tersebut, ia menilai ukuran keberhasilan media tak lagi bertumpu pada trafik, melainkan pada kualitas informasi yang dihasilkan.
"Content is the king. Trusted is the king. Independensi adalah raja. Di era AI, kepercayaan menjadi aset paling mahal," tegasnya.
Manggut juga mengkritik model bisnis media digital yang terlalu lama bergantung pada jumlah klik. Menurutnya, pola tersebut mendorong media lebih memilih konten sensasional dibanding isu-isu penting seperti ekonomi, inflasi, atau kebijakan publik yang justru memiliki dampak lebih besar bagi masyarakat.
AI Harus Digunakan, Bukan Dipercaya Mentah
Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur Sherlita Ratna Dewi Agustin. Ia mengungkapkan penetrasi internet di Jawa Timur telah mencapai 83,41 persen atau lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sebesar 81,72 persen. Jawa Timur juga menyumbang sekitar 15,10 persen pengguna internet nasional.
Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat membuat media dan pemerintah harus ikut beradaptasi.
"Media harus berubah karena konsumennya juga berubah. Anak-anak sekarang lahir ketika internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari," katanya.
Sherlita menjelaskan Pemerintah Provinsi Jawa Timur kini mendorong seluruh organisasi perangkat daerah memiliki akun media sosial terverifikasi sebagai upaya memperkuat kepercayaan publik sekaligus menekan penyebaran hoaks.
Di sisi lain, pemerintah juga memperluas program literasi digital melalui Cerdik (Cerdas Digital) yang telah menjangkau lebih dari 41 ribu peserta sejak 2025. Tahun ini materinya berkembang mencakup AI Agent, prompt engineering, hingga pengembangan sistem AI melalui program AI Talent Factory bersama ITS, Universitas Brawijaya, dan Universitas Gadjah Mada.
Meski mendorong pemanfaatan AI, Sherlita mengingatkan teknologi tersebut tetap harus diperlakukan secara kritis.
"Gunakan AI, tetapi jangan percaya seratus persen. AI tetap harus diverifikasi karena masih bisa menghasilkan informasi yang keliru," ujarnya.
Pemprov Jatim juga memperkuat kesiapan sumber daya manusia melalui Cyber Defense Academy dan kompetisi keamanan siber bagi pelajar SMA/SMK bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Di Era Post-Truth, Media Jadi Rujukan Terakhir
Sementara itu, Guru Besar Universitas Negeri Surabaya Prof. Dr. Martadi mengingatkan tantangan terbesar bukan hanya perkembangan AI, tetapi juga menguatnya fenomena post-truth, ketika informasi yang terus diulang akhirnya dipercaya sebagai kebenaran.
Dalam kondisi tersebut, menurutnya, media memiliki tanggung jawab yang semakin besar sebagai institusi yang melakukan verifikasi fakta.
"Ketika masyarakat ragu apakah sebuah informasi benar atau tidak, mereka akan kembali kepada media yang terpercaya. Itulah roh media yang tidak boleh hilang," katanya.
Martadi juga mendorong terbentuknya kolaborasi permanen antara pemerintah, perguruan tinggi, media, dan industri agar hasil riset akademik tidak berhenti di jurnal ilmiah, tetapi dapat diterjemahkan menjadi informasi yang mudah dipahami masyarakat.
Jatim Media Summit 2026 pun ditutup dengan satu kesimpulan yang mengemuka dari berbagai pembicara: di tengah disrupsi AI yang mengubah cara masyarakat mencari informasi, nilai paling penting bagi media bukan lagi sekadar kecepatan atau banyaknya klik, melainkan kemampuan menjaga kepercayaan publik melalui jurnalisme yang akurat, independen, dan bertanggung jawab.
© 2026 SUARA.COM - ALL RIGHTS RESERVED.