Bagi jurnalis lepas, waktu adalah modal. Semakin cepat sebuah pekerjaan selesai, semakin banyak peluang yang bisa dikejar. Di tengah tuntutan itu, kecerdasan buatan (AI) mulai menjadi teman kerja baru.
Sejumlah pekerjaan seperti riset, transkripsi wawancara, terjemahan, pengecekan tata bahasa hingga draf awal tulisan kini bisa lebih mudah dilakukan dengan bantuan AI.
Padahal sebelumnya, pekerjaan itu bisa menghabiskan waktu berjam-jam, namun kini dapat dipangkas menjadi hitungan menit.
"AI memungkinkan saya melakukan pekerjaan tertentu jauh lebih cepat. Hal-hal yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam sekarang bisa diselesaikan dalam hitungan menit," ujar Editor Freelance media Meksiko El Manana, Jesús García Rodríguez seperti dikutip Reuters Institute.
Tentunya bagi freelancer, kemudahan bantuan seperti ini jelas menguntungkan. Sebab, ada banyak waktu yang dihemat dan bisa digunakan untuk menggali informasi, menghubungi narasumber, atau mengejar ide liputan berikutnya.
Namun pada kenyataannya, AI juga membawa persoalan yang tidak sederhana. Persoalan tersebut tercermin dalam kasus Margaux Blanchard.
Sosok yang mengaku sebagai jurnalis lepas itu menulis untuk sejumlah media berbahasa Inggris. Namun, sejumlah tulisannya kemudian diduga dibuat menggunakan AI dan akhirnya tulisan Blanchard diturunkan oleh media terkait.
Tak hanya itu, kasus serupa muncul melalui nama Victoria Goldiee. Untuk kasus ini, masalahnya bukan semata soal penggunaan AI, tetapi ketika teknologi digunakan tanpa proses jurnalistik yang semestinya.
Kenyataan tersebut tentunya memutarbalikan bahwa keuntungan AI bisa berubah menjadi jebakan.
Harus diakui, AI memang cepat, tetapi tidak selalu benar. Informasi yang terdengar meyakinkan belum tentu faktual. Karena itu, pekerjaan verifikasi justru menjadi semakin penting.
“Jika saya menggunakan AI untuk menghemat waktu, tetapi kemudian harus memeriksa semua yang dihasilkannya, penghematan waktu itu bisa hilang,” kata jurnalis freelance Sophie Mangado.
Tentunya persoalan ini menjadi sangat relevan bagi media lokal karena kesalahan informasi bukan hanya soal satu artikel yang keliru. Reputasi media dan kepercayaan pembaca ikut dipertaruhkan.
Editor Harus Jeli
Perubahan juga dirasakan para editor. Pitch yang rapi dan tulisan yang meyakinkan kini belum tentu cukup untuk menunjukkan bahwa seorang freelancer benar-benar menguasai isu.
Executive Editor Majalah The Local di Kanada, Nicholas Hune-Brown bahkan pernah menemukan kejanggalan dalam sebuah pitch yang tampak sangat meyakinkan. Namun setelah diperiksa, ditemukan kutipan ahli yang palsu atau tidak sesuai fakta.
Kondisi ini membuat proses pengecekan semakin ketat. The Local, misalnya, memperkuat fact-checking dan meminta penulis menyertakan draf yang diberi anotasi.
Riwayat perubahan di Google Docs bahkan dapat digunakan untuk menunjukkan proses pengerjaan tulisan.
Tetapi kewaspadaan ini juga punya konsekuensi. Jurnalis baru yang belum memiliki rekam jejak bisa ikut dicurigai.
“Sekarang, tulisan pitch yang bagus tidak lagi cukup untuk membuktikan bahwa seseorang benar-benar ahli di bidangnya,” ujar Hune-Brown.
Perdebatan mengenai AI pada akhirnya bukan sekadar apakah teknologi ini akan menggantikan jurnalis.
Namun sebagian freelancer menganggap bahwa AI membuat pekerjaan lebih cepat. Bagi yang lain, perkembangan teknologi justru terasa sebagai ancaman terhadap pekerjaan dan penghasilan.
Akan tetapi yang tampaknya belum berubah, yakni kebutuhan terhadap manusia di balik proses jurnalistik.
“Harus tetap ada penulis manusia di balik pekerjaan yang menggunakan GenAI,” kata Editor freelance asal Argentina Eric Facundo Fernández.
Pesannya sederhana: AI boleh membantu jurnalis bekerja lebih cepat, tetapi jangan sampai mengambil alih tanggung jawab jurnalistik.
Untuk pengelola media lokal, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan “boleh atau tidak menggunakan AI”, melainkan AI digunakan untuk apa, siapa yang memeriksa hasilnya, dan siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi kesalahan. (Raisa Olivia)
© 2026 SUARA.COM - ALL RIGHTS RESERVED.