Tren kerja sama antara media berita dan kreator konten (influencer) kini makin mengemuka. Sebab, langkah tersebut dinilai menjadi strategi inovatif bagi pengelola media lokal untuk menjangkau audiens di platform tempat mereka mencari informasi.
Berdasarkan laporan Poynter.org, Director of Craft and Local News, Poynter Institute, Kristen Hare, mencatat semakin banyak jurnalis yang menjalin kolaborasi dengan influencer. Eratnya hubungan dan tingkat kepercayaan yang tinggi antara influencer dan komunitasnya menjadi alasan utama media mulai melirik potensi ini.
Bahkan, inisiatif kolaborasi ini telah berjalan melalui berbagai program. Lenfest Institute bersama Google News Initiative menggelar News Creator Summit Series pada Maret lalu.
Sementara itu, Project C menyediakan dukungan bagi jurnalis generasi baru, dan American Press Institute (API) meluncurkan panduan khusus terkait kolaborasi jurnalis dan influencer.
Model bisnis nyata juga ditunjukkan oleh New York Public Radio dan URL Media yang menghadirkan influencer ke dalam program radio. Proyek ini terbukti mampu memproduksi konten menarik sekaligus membuka peluang pendapatan baru.
Kristen Hare menyambut positif tren ini karena kerja sama tersebut menjadi peluang untuk memperluas jangkauan, membangun komunitas, menciptakan program unggulan, hingga meningkatkan sumber pendapatan media.
Sementara itu, Cofounder of URL Media S Mitra Kalita menjelaskan bahwa program kolaboratif dibentuk berdasarkan pemantauan atas pengalaman dan acara yang dinilai berhasil.
“Mitra URL Media telah berhasil berkolaborasi dengan WNYC. Kami melakukannya untuk sebuah acara yang menandai 100 hari pertama Wali Kota (New York) Zohran Mamdani menjabat yang memungkinkan kami menjangkau audiens baru,” kata Kalita.
Bagi Kalita, istilah influencer mencakup ruang yang luas, mulai dari blogger hingga kreator di TikTok dan YouTube. Daya tarik utama mereka di mata jurnalis adalah kedekatan serta kepercayaan yang terbangun di dalam komunitas.
Ia mencontohkan sosok Yashica Dutt yang vokal menyuarakan isu kasta dan politik Asia Selatan, serta Nick Valencia yang gencar mengulas keresahan komunitas imigran dengan bahasa yang mudah dipahami publik luas.
Mayoritas influencer yang dirangkul URL Media menggunakan format video untuk menjangkau audiens.
“Format ini merupakan format penting yang perlu dipelajari oleh ruang redaksi,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa arah kolaborasi media saat ini tidak lagi sekadar mengejar viralitas, melainkan membangun keterlibatan audiens dan memanfaatkan jaringan kepercayaan lokal.
“Saya juga ingin menyoroti beberapa contoh kolaborasi komunitas yang luar biasa, yang kurang berorientasi pada viralitas dan lebih berfokus pada kepercayaan serta pemanfaatan jaringan lokal,” ujarnya.
Pendekatan berbasis komunitas ini terlihat pada Epicenter di Queens yang bermitra dengan rumah ibadah, perpustakaan, hingga dapur umum untuk meliput isu warga.
Hal serupa dilakukan Kansas City Defender, anggota URL Media yang menjadikan bekas toko buku kulit hitam tertua di Missouri sebagai kantor pusat mereka.
© 2026 SUARA.COM - ALL RIGHTS RESERVED.