Berbicara anak muda, kerapkali gaung suara mereka di ruang publik menjadi bagian yang tersisihkan. Realitas ini yang kemudian membuat Gentra.id mengambil posisi tegas, menjadi corong utama anak muda.
Padahal saat kelahirannya di tahun 2019, Gentra mendedikasikan diri menjadi 'media' yang mengawal hak-hak kelompok terpinggirkan. Namun, ketimpangan ruang wacana yang disuarakan anak muda ternyata menjadi keresahan tersendiri bagi Usamah Ahmad Rizal, sosok di balik Gentra.
"Secara jumlah demografi, kelompok muda saat ini mendominasi. Namun, isu-isu di masyarakat justru masih didominasi oleh kelompok tua," ujar Rizal.
Berangkat dari realitas itu, Gentra kemudian meracik isu-isu publik—mulai dari politik, sosial, hingga ekonomi—dengan perspektif yang lebih segar.
Tujuannya satu, yakni memastikan besarnya angka demografi anak muda mampu bertransformasi menjadi kekuatan yang memengaruhi arah kebijakan publik.
Keberpihakan itu kemudian mewujud dalam kerja nyata redaksi. Salah satunya ketika isu rencana konser musik Hindia di Tasikmalaya sempat mendapat penolakan dari kelompok tertentu.
Saat mata pencaharian sektor ekonomi kreatif lokal terancam, Gentra kemudian mengambil peran mengonsolidasikan suara anak muda yang menggantungkan hidup di sektor tersebut. Lewat dorongan narasi yang kuat, aspirasi mereka terakomodasi dan napas industri kreatif di daerah pun tetap terjaga.
Lebih dari sekadar menyajikan berita, Gentra kemudian merancang ruang redaksinya sebagai wadah kolaborasi. Mereka menyadari anak muda butuh ruang untuk bertukar gagasan secara mendalam, bukan sekadar lewat komentar singkat di media sosial.
Pendekatan yang lain pun dilakukan dengan merangkul influencer lokal. Mereka yang aktif wara-wiri berbicara soal pendidikan, pariwisata, hingga figur seperti Duta Genre dan Mojang-Jajaka, ditantang untuk naik kelas, tidak hanya sekedar membuat konten visual.
Gentra mendorong influencer untuk menuangkan pemikiran ke dalam kolom opini.
“Misalnya, influencer yang memiliki kepedulian terhadap isu anak dapat menulis opini tentang isu tersebut,” kata Rizal.
Perlahan namun pasti, langkah ini menggeser iklim wacana di kalangan muda untuk mengasah ketajaman gagasan. Efek dominonya, anak muda lain pun terdorong untuk ikut membaca dan menulis.
Menangkap Denyut Nadi Publik lewat Teknologi
Tak hanya berbicara pemberdayaan, Gentra.id juga melakukan inovasi teknologi yang menjadi kekuatan utama mereka saat ini.
Media yang berbasis di Priangan Timur ini kemudian menelurkan "Gentra Data". Kelahiran 'sayap bisnis' ini kemudian menjadi garis pembeda yang sangat tegas antara Gentra dengan media lokal kebanyakan.
Rizal mengungkap, embrio Gentra Data lahir dari unit bisnis penanganan media sosial mereka. Awalnya, Rizal dan tim meracik analisis sentimen publik secara manual demi mengukur efektivitas kampanye sebuah jenama.
Melalui kolaborasi dengan tim IT, sistem itu kemudian berevolusi menjadi platform pemodelan mesin otomatis. Mesin ini sanggup membaca riuhnya percakapan publik di media sosial, lalu memetakannya menjadi sentimen positif maupun negatif.
Kini, mesin pembaca sentimen diadopsi sebagai fondasi dasar bagi redaksi dalam memproduksi konten. Sehingga data tidak lagi menjadi sekadar pelengkap, melainkan instrumen utama untuk mengumpulkan suara masyarakat sipil di dunia maya.
Keakuratannya bahkan membuat instansi sekelas Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Badan Pusat Statistik (BPS), hingga Pemerintah Kota menjadikan Gentra Data sebagai rujukan penting.
“Kalau pemerintah memiliki kebijakan, kita bisa menunjukkan bagaimana respons masyarakat terhadap kebijakan tersebut. Oleh karena itu, ada koreksi dan evaluasi,” ujar Rizal.
Meski berbekal mesin analisis data yang mumpuni, redaksi Gentra menolak tunduk pada tirani algoritma. Isu yang paling ramai dibicarakan netizen tidak otomatis menjadi wajah utama pemberitaan.
Gentra menetapkan garis demarkasi yang tegas: perspektif anak muda dan suara kelompok terpinggirkan adalah jangkar utama. Ketika hasil analisis percakapan publik justru menyudutkan dua kelompok ini, Gentra akan tetap berdiri membela nilai yang mereka yakini.
Pada akhirnya, data digunakan sebatas sebagai pisau bedah untuk membedah persoalan secara mendalam, bukan untuk mengekor pada tren semata.
Melalui perpaduan antara jurnalisme empati dan kecerdasan data, Gentra.id membuka jalan agar anak muda Tasikmalaya tak hanya menjadi objek penikmat kebijakan, tetapi menjadi subjek aktif yang merawat kotanya. (Raisa Olivia)
© 2026 SUARA.COM - ALL RIGHTS RESERVED.