Green Zetizen menjadi program Kaltim Today merangkul kaum muda di Kaltim untuk peduli pada isu lingkungan. (Dok) Fri, Sep 18, 2026 4:45 PM

Mencari Suara Baru di Benua Etam: Cerita KaltimToday Merangkul Gen Z Lewat Isu Lingkungan

Di tengah lanskap pemberitaan daerah yang penuh isu politik, hukum, dan pemerintahan, sebuah ruang redaksi di Kalimantan Timur mencoba mengambil jalan memutar. 

Mereka melihat isu lingkungan, seperti krisis iklim, masa depan lahan pascatambang, hingga transisi energi sebagai cerita yang terlewatkan oleh generasi penerus.

Dari kegelisahan itu, KaltimToday melahirkan Green Zetizen. Program itu dikembangkan sebagai ruang khusus yang menempatkan anak muda, khususnya Gen Z, sebagai aktor utama dalam diskursus lingkungan lokal.

Berawal dari proyek kolaborasi bersama International Media Support (IMS) selama 6 bulan, KaltimToday berhasil membaca celah audiens yang selama ini kosong, sebelum akhirnya mendapatkan dukungan donor baru agar program terus bernapas.

“Di Kaltim itu nggak banyak media, bahkan jaranglah media-media yang garap isu lingkungan. Jadi ada opportunity di Kaltim dan menggunakan pendekatan bahasa anak muda di media-media sosial,” ujar Pemred Kaltim.co, Ibrahim.

Menyasar Gen Z berarti merombak total gaya komunikasi di dapur redaksi. Istilah-istilah teknis yang kaku mulai disingkirkan.

Sebagai gantinya, isu kompleks dibungkus melalui pendekatan storytelling dan dikaitkan dengan realitas anak muda, seperti peluang karier di sektor hijau (green jobs). Kontennya pun disebar dalam format yang lebih cair seperti reels, meme, infografik, hingga siniar.

“Di podcast yang kami buat pun bahasanya juga agak santai, nggak kaku kayak podcast-podcast media-media berita,” ujar narasumber.

Bagi Green Zetizen, anak muda bukan sekadar angka metrik atau pembaca pasif.

Redaksi sengaja membuka pintu lebar-lebar untuk menyerap ide dari grup-grup WhatsApp komunitas. Dari sana, berbagai kegelisahan akar rumput seperti isu hutan adat hingga inovasi pengelolaan sampah untuk diangkat ke permukaan.

"Kalau ada anak muda yang jadi penggerak di isu tertentu, misalnya pelajar yang punya program sadar sampah di sekolahnya atau anak muda di komunitas adat, merekalah yang kami prioritaskan untuk tampil sebagai narasumber," ujar Baim, sapaannya.

Sinergi yang dibangun redaksi ini mempertegas satu hal penting dalam jurnalisme berbasis komunitas.

"Anak muda tidak hanya sekadar target pembaca. Kami libatkan mulai dari menjadi narasumber, pembuat konten, hingga peserta kegiatan workshop dan seminar."

Tentu saja, membangun jurnalisme lingkungan untuk audiens muda bukan tanpa tantangan.

Green Zetizen Kaltim Today
Green Zetizen menjadi salah satu program andalan Kaltim Today dalam menjaring anak muda di Kaltim. (Dok)
Tim internal Green Zetizen kerapkali harus berhadapan dengan realitas literasi digital dan kepedulian lingkungan yang belum merata di kalangan pelajar. Mereka harus rajin turun langsung ke lapangan untuk memberikan pemahaman.

Tantangan demografis juga menjadi ujian tersendiri. Demi mengejar narasumber atau meliput langsung ke daerah lain, para jurnalis harus rela menempuh perjalanan darat tiga hingga empat jam. Di sisi lain, keberlanjutan finansial program juga terus dipikirkan agar tidak hanya bergantung pada hibah.

Namun, keringat tim redaksi perlahan membuahkan hasil. Pendekatan visual yang akrab, interaktif, dan sederhana nyatanya mampu mendongkrak pengikut sosial media secara organik dan masif.

“Kurang lebih program kami berjalan itu lumayanlah sudah menjangkau hampir jutaan akun di media sosial,” ujar ibrahim.

Antusiasme ini tidak hanya subur di ruang digital, tetapi juga meluap ke dunia nyata. Berbagai kelas luring tentang pembuatan konten hingga pengolahan limbah kerap kelebihan kapasitas. Dalam forum-forum ini, redaksi KaltimToday mengambil sikap tegas untuk memberikan ruang afirmasi.

"Kalau bikin kegiatan workshop, kami memprioritaskan perempuan. Target kami sekitar 55 sampai 60 persen pesertanya harus perempuan muda." ujar ibrahim.

Cerita Green Zetizen ternyata tidak berhenti saat acara usai. Anak-anak muda ini pulang membawa percikan baru. Mereka mulai menghidupkan majalah dinding sekolah dengan isu pascatambang, membuat konten mandiri, hingga menyuarakan perlindungan habitat bekantan dan orangutan dari kabut asap. 

Melalui langkah sederhana ini, KaltimToday membuktikan bahwa isu lingkungan bisa diubah dari berita yang berat menjadi sebuah gerakan yang memikat. (Raisa Olivia)