Membangun ekosistem ekonomi kreatif yang kokoh kini menjadi sebuah keharusan bagi pelaku industri digital. Untuk mewujudkan hal tersebut, kolaborasi erat antara media lokal, kreator konten, dan brand menjadi kunci penentu.
Pesan ini menjadi sorotan utama dalam Sharing Session "Masa Depan Media & Ekonomi Kreatif di Era Kolaborasi". Acara ini merupakan hasil inisiasi bersama antara Gentra.id dan Local Media Community.
Kegiatan tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pengelola media, kreator, dunia usaha, hingga praktisi industri event.
Pada momen yang sama, Gentra.id turut merilis GenCreatorHub.com, sebuah platform yang dirancang untuk mempertemukan brand dengan kreator secara lebih terstruktur.
CEO Gentra.id, Usama Ahmad Rizal, memandang ketiga elemen ekosistem ini memiliki kekuatan yang saling melengkapi.
“Media memiliki audiens dan kredibilitas, kreator memiliki kedekatan dengan komunitas, sementara brand memiliki produk dan kebutuhan pasar. Kalau tiga ekosistem ini bisa dipertemukan, akan banyak peluang kolaborasi yang bisa diciptakan,” kata Rizal, Kamis, (1/10/2026).
Rizal menekankan bahwa potensi besar ini tidak eksklusif milik kota-kota besar. Kawasan daerah seperti Tasikmalaya dan Priangan Timur juga menyimpan kekuatan media dan kreator lokal yang siap dikembangkan.
“Kita ingin potensi lokal tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi kreatif, kreator dan media lokal harus bisa mendapatkan akses ke brand, sementara brand lokal juga bisa mendapatkan exposure yang lebih luas,” ujar Rizal.
Daya Tawar dan Adaptasi Media Lokal
Menghadapi disrupsi digital, pengelola pers daerah perlu menyadari bahwa daya tawar tertinggi yang mereka miliki adalah kedekatan emosional dengan masyarakat setempat.
General Manager Harapanrakyat.com, Subagja Humara menegaskan, pentingnya menjaga roh jurnalistik di tengah gempuran tren tersebut.
“Media hari ini menghadapi perubahan yang sangat cepat, audiens berubah, platform berubah, dan cara orang mengonsumsi informasi juga berubah. Media harus mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut tanpa meninggalkan prinsip jurnalistik,” ujar Subagja.
Ia menilai kekuatan lokal ini bisa diekspansi secara lebih maksimal jika pengelola media mau membuka diri.
"Media lokal punya kedekatan dengan komunitas dan masyarakat. Kekuatan tersebut bisa dikembangkan melalui kolaborasi dengan kreator maupun pelaku usaha sehingga konten dan informasi lokal bisa memiliki jangkauan yang lebih luas,” tuturnya.
Senada dengan hal itu, perubahan perilaku pembaca memang menjadi tantangan nyata yang mewajibkan industri media untuk terus beradaptasi. Hal ini turut digarisbawahi oleh Senior Editor IDN Times, Yogi Pasha.
“Audiens sekarang mendapatkan informasi dari banyak sumber, bukan hanya media, ada kreator, komunitas, media sosial, dan berbagai platform digital, karena itu, media perlu memahami perubahan tersebut dan mencari bentuk kolaborasi yang relevan,” ujar Yogi.
Sinergi dengan kreator dinilai sebagai solusi ideal. Keduanya dinilai memiliki karakter berbeda namun bisa saling menambal ruang kosong dalam menjangkau audiens baru.
“Media punya kekuatan pada jurnalistik dan kredibilitas, sementara kreator memiliki kedekatan dengan audiens dan komunitas, kolaborasi keduanya dapat membuka format dan cara distribusi konten yang lebih beragam,” katanya.
Membuka Ruang Pertumbuhan Usaha Lokal
Sinergi kreatif ini pada akhirnya bermuara pada pertumbuhan iklim bisnis di daerah. Founder Payung Entrepreneur Sukapura, Asep Saepuloh, menilai media dan kreator bisa menjadi ujung tombak pemasaran yang efektif.
“Pelaku usaha lokal membutuhkan akses pasar dan komunikasi yang tepat, media dan kreator bisa menjadi jembatan untuk memperkenalkan produk dan cerita di balik sebuah usaha kepada masyarakat,” ujar Asep.
Ia melihat potensi UMKM di wilayah seperti Tasikmalaya sangat menjanjikan jika terhubung dengan ekosistem digital.
“Kita memiliki banyak potensi usaha lokal, yang perlu diperkuat adalah koneksi antara pelaku usaha, media, kreator, komunitas, dan pasar. Kalau ekosistemnya terhubung, peluang pertumbuhannya juga semakin terbuka,” katanya.
Dari kacamata industri, Sekjen DPP Industri Event Indonesia (IVENDO), Evan Saepul Rohman, memandang ekosistem kreatif harus bergerak secara integratif agar memiliki nilai ekonomi.
“Event tidak berdiri sendiri, ada media, kreator, brand, venue, komunitas, UMKM, dan berbagai industri pendukung, semuanya memiliki peran dan bisa saling menguatkan,” ungkap Evan.
“Kita tidak harus mengerjakan semuanya sendiri, justru kekuatan industri kreatif adalah ketika berbagai kompetensi bisa dipertemukan dalam satu kolaborasi,” jelasnya.
Namun, untuk mengimbangi kebutuhan industri, para kreator juga dituntut untuk naik kelas. Influencer Gen Creator Hub, Ova Nova, menyebut profesionalisme kini menjadi harga mati.
“Kreator sekarang tidak cukup hanya memiliki followers, kreator harus memahami kebutuhan brand, mampu membuat konten yang berkualitas, dan memahami bagaimana bekerja secara profesional,” ujar Ova.
Kerja sama yang sehat harus dibangun secara berkesinambungan, bukan sekadar hubungan jangka pendek.
“Kreator dan brand bisa membangun kolaborasi jangka panjang, yang penting adalah menemukan kecocokan antara karakter kreator, audiens, produk, dan tujuan kampanye,” katanya.
© 2026 SUARA.COM - ALL RIGHTS RESERVED.