Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di ruang redaksi menawarkan satu keuntungan yang sulit diabaikan, yakni pekerjaan bisa diselesaikan lebih cepat. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemudahan tersebut juga membawa risiko terhadap cara manusia berpikir dan mengambil keputusan.
Risiko itu dikenal dengan istilah cognitive surrender atau penyerahan kognitif. Merujuk Reuters Institute, istilah ini diperkenalkan dalam working paper 2026 yang ditulis Steven Shaw dan Gideon Nave dari Wharton School, University of Pennsylvania.
Para peneliti mendefinisikan cognitive surrender sebagai kecenderungan perilaku dan motivasi untuk menyerahkan penilaian, upaya, dan tanggung jawab kepada AI, terutama ketika keluaran tersebut disampaikan dengan lancar, meyakinkan, dan tanpa banyak hambatan
Sederhananya, seseorang bisa semakin mudah menyerahkan penilaian, usaha, dan tanggung jawabnya kepada AI ketika jawaban yang diberikan terdengar meyakinkan, lancar, dan mudah diterima.
Dalam tiga penelitian yang melibatkan 1.372 partisipan, Shaw dan Nave menemukan bahwa orang tetap menerima keluaran AI meskipun informasi yang diberikan sengaja dibuat salah. Mereka juga menemukan bahwa tingkat kepercayaan diri pengguna terhadap AI meningkat dalam berbagai kondisi.
Temuan ini menjadi relevan ketika AI mulai digunakan sebagai bagian dari pekerjaan sehari-hari di ruang redaksi.
Dalam jurnalistik, persoalannya bukan sekadar apakah AI bisa membuat berita dalam hitungan detik. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi ketika jurnalis mulai terlalu percaya pada hasil yang diberikan mesin.
Seorang reporter, misalnya, bisa menggunakan AI untuk mencari ide, menyusun draf, atau merangkum bahan wawancara. Namun, proses jurnalistik tidak berhenti pada tersusunnya sebuah teks. Reporter tetap perlu memeriksa fakta, mencari konteks, mempertanyakan informasi, dan memastikan berita memiliki dasar yang jelas.
Ketika proses tersebut semakin sering diserahkan kepada AI, kemampuan untuk mempertanyakan kembali informasi justru bisa berkurang.
Cenderung Membenarkan Pengguna
Mala Kumar, Executive Director Humane Intelligence, organisasi nirlaba yang berfokus pada evaluasi dan penerapan AI untuk kepentingan sosial, melihat persoalan lain dalam desain sejumlah model AI yang banyak digunakan.
Kumar mengatakan, beberapa model cenderung memberikan validasi terhadap apa yang disampaikan pengguna, termasuk ketika gagasan tersebut sebenarnya merupakan ide yang buruk.
"Jadi, OpenAI pada dasarnya mengambil keputusan desain untuk memvalidasi banyak hal yang dikatakan orang, bahkan ketika hal tersebut secara jelas merupakan gagasan yang buruk," kata Kumar.
Menurut dia, pendekatan yang digunakan model Claude dan Gemini cenderung lebih berimbang ketika memberikan respons.
"Model Claude dan Gemini cenderung mengambil pendekatan yang jauh lebih berimbang ketika menyampaikan sesuatu," ujarnya.
Kumar mengatakan model-model tersebut dapat memberikan penjelasan mengenai alasan sebuah gagasan dianggap baik atau buruk. Dengan begitu, pengguna setidaknya didorong untuk kembali mempertimbangkan gagasan yang mereka sampaikan.
"Mereka memberikan semacam penjelasan atau batasan terhadap pernyataan tersebut, yang setidaknya dapat membuat pengguna keluar dari cara berpikir seperti itu dan dari kondisi semacam psikosis AI yang dialami banyak orang, ketika mereka terus-menerus mendapatkan validasi dan informasi yang memang ingin mereka dengar," katanya.
Bagi ruang redaksi, persoalan ini patut diperhatikan. Jurnalis terbiasa bekerja dengan pertanyaan dan verifikasi. Jika alat yang digunakan justru terus memberikan jawaban yang menguatkan apa yang sudah dipikirkan pengguna, proses untuk mencari sudut pandang lain bisa menjadi semakin pendek.
Kekhawatiran Dalam Ruang Redaksi
Kekhawatiran mengenai dampak AI terhadap cara jurnalis bekerja juga mulai muncul dari para pengelola media.
Ibrahim Shehu, Group Editorial Director sekaligus Editor-in-Chief Media Trust Group di Nigeria, mengatakan dirinya melihat perubahan tersebut di ruang redaksi.
"Saya merasa AI membunuh kreativitas manusia," kata Shehu.
Menurut dia, sebagian jurnalis muda di ruang redaksi tidak lagi banyak berpikir atau menghasilkan gagasan secara mandiri karena ingin menggunakan AI untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat.
"Banyak anak muda di ruang redaksi tidak lagi banyak berpikir dan tidak kreatif. Semua orang ingin menggunakan alat tersebut agar pekerjaan selesai dengan cepat," ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan persoalan yang mungkin juga dihadapi banyak media dengan sumber daya terbatas. Ketika reporter harus mengejar banyak berita dalam waktu singkat, AI dapat menjadi alat yang sangat membantu.
Namun, jika ukuran efisiensi hanya dilihat dari seberapa cepat sebuah berita selesai, ada pekerjaan penting yang bisa ikut terabaikan: reporter keluar menemui sumber, menggali informasi lebih dalam, menghubungkan fakta, dan memahami persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Bagi media lokal, pekerjaan semacam itu justru merupakan salah satu kekuatan utama. Kedekatan dengan masyarakat dan pemahaman terhadap konteks lokal tidak mudah digantikan oleh mesin.
Kepercayaan Pembaca
Shehu juga melihat penggunaan AI sebagai persoalan yang berkaitan dengan kepercayaan audiens.
"Ini soal autentisitas. Jika berita Anda disampaikan oleh mesin, ada kekhawatiran bahwa pada akhirnya kita bisa kehilangan audiens," katanya.
Kekhawatiran tersebut penting karena hubungan antara media dan pembacanya dibangun bukan hanya melalui informasi yang cepat, tetapi juga melalui kepercayaan.
Pembaca media lokal, misalnya, mungkin lebih membutuhkan berita yang menjelaskan mengapa sebuah kebijakan pemerintah daerah berdampak pada kehidupan mereka, siapa yang terdampak, atau bagaimana kondisi sebenarnya di lapangan. Informasi semacam itu membutuhkan konteks dan kerja jurnalistik, bukan sekadar kemampuan menghasilkan teks.
Karena itu, Shehu tengah mengeksplorasi cara untuk mendorong pemikiran orisinal dan mengurangi ketergantungan berlebihan pada perangkat AI, termasuk kemungkinan menggunakan teknologi pendeteksi AI.
Tempatkan AI di Posisi Tepat
Penelitian mengenai cognitive surrender tidak berarti AI harus dijauhkan dari ruang redaksi. Justru, temuan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa teknologi perlu ditempatkan pada posisi yang tepat.
AI bisa membantu pekerjaan yang sifatnya administratif dan repetitif. Teknologi ini juga dapat membantu reporter mengolah bahan dalam jumlah besar, membuat transkrip, merangkum dokumen, atau mencari kemungkinan sudut berita.
Namun, keputusan jurnalistik tetap perlu berada di tangan manusia.
Reporter harus tetap memeriksa fakta dan sumber asli. Editor harus tetap mempertanyakan apakah sebuah informasi layak diterbitkan. Redaksi juga perlu memastikan bahwa penggunaan AI tidak membuat berita kehilangan konteks, perspektif, dan karakter yang membedakannya dari konten yang diproduksi secara massal.
Bagi pemilik dan pengelola media lokal, tantangannya bukan sekadar memilih antara menggunakan AI atau tidak. Yang lebih penting adalah menentukan bagian mana yang bisa dibantu AI dan bagian mana yang tidak boleh diserahkan kepada AI.
Kecepatan produksi memang penting. Tetapi jika penggunaan AI membuat jurnalis semakin jarang bertanya, memeriksa, dan berpikir, efisiensi tersebut pada akhirnya bisa dibayar dengan sesuatu yang jauh lebih sulit dibangun kembali: kepercayaan pembaca.
© 2026 SUARA.COM - ALL RIGHTS RESERVED.