Mempertahankan identitas lokalitas menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola media lokal di tengah gempuran konten media sosial dan video singkat.
Tetapi bagi PanturaPost, hal tersebut merupakan peluang. Inisiasi nyata itu kemudian dituangkan dengan menghadirkan Warta Ngapak, -sebuah rubrik berita yang secara utuh dikemas menggunakan bahasa daerah Tegalan-.
Langkah strategis tersebut menjadi salah satu kunci eksistensi PanturaPost yang pada tahun ini genap berusia 10 tahun.
Sejak memulai perjalanannya pada 2016, media digital ini terus berkembang dengan melibatkan lebih banyak sumber daya manusia di dalam redaksi.
Salah satu inovasi menonjol mereka, yakni komitmen pada bahasa ibu. Penggunaan bahasa daerah tak hanya diposisikan sebagai pemanis pada bagian judul berita.
Akan tetapi, seluruh isi pemberitaan Warta Ngapak murni disajikan menggunakan bahasa tersebut.
Pendekatan ini ternyata membuahkan respons positif dari pembaca. Masyarakat menyambut antusias karena informasi terasa lebih dekat dan disampaikan dengan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari.
Penggunaan bahasa ngapak dalam bentuk tulisan jurnalistik tentu memiliki karakter tersendiri. Terutama bila disandingkan dengan bahasa Jawa Tegalan, yang perbedaannya diakui lebih terasa menonjol pada logat lisan.
“Secara tulisan bahasanya mirip,” kata Direktur PanturaPost.com, Muhammad Irsyam Faiz.
Sebagai pengelola media, menjaga standar kualitas bahasa lokal dalam sebuah produk jurnalistik tentu sangat krusial.
PanturaPost kemudian mengambil langkah taktis dengan berkolaborasi bersama ahli yang memahami bahasa dan sastra daerah setempat.
“Iya kami menggandeng sastrawan lokal untuk kurasi konten bahasa lokal. Salah satunya sastrawan Lanang Setiawan,” jelasnya.
Keterlibatan pihak luar ini rupanya tidak berhenti pada proses kurasi berita semata. Kolaborasi tersebut sukses membuka ruang baru bagi eksistensi karya sastra lokal di platform digital.
“Dia juga mengisi kolom khusus bahasa lokal seperti Moci, Novelet Tegalan, Cerpen Tegalan,” lanjutnya.
Selain memperkuat kualitas konten, PanturaPost juga sangat memperhatikan perubahan perilaku audiens dalam mengonsumsi informasi. Mereka sadar bahwa berita kini tidak hanya dicari melalui situs web media, melainkan bergeser ke media sosial.

Ekspansi format dan isu ini merupakan strategi redaksi untuk merangkul generasi muda.
"Tujuannya agar bahasa daerah tidak hanya menjadi milik generasi tua, tetapi tetap terasa relevan dan akrab bagi pengguna media sosial muda."
Untuk memperluas jangkauan distribusi, redaksi juga mulai melirik peluang kolaborasi dengan pihak lain, termasuk kreator konten atau influencer lokal. Langkah ini dinilai efektif membawa warta lokal lebih membaur di ruang digital.
Dari sisi operasional, Irsyam mengatakan, redaksi juga mulai beradaptasi dengan efisiensi teknologi. PanturaPost memanfaatkan Kecerdasan Buatan (AI) untuk membantu kebutuhan visual konten, khususnya sebagai elemen tambahan penyajian video.
"Tetapi, penggunaannya sebatas pendukung dan bukan menjadi fokus utama dapur redaksi."
Melalui inovasi penyajian dan penyesuaian distribusi, PanturaPost terbukti mampu merawat identitas kedaerahannya tanpa harus tertinggal oleh cepatnya laju perubahan zaman.
© 2026 SUARA.COM - ALL RIGHTS RESERVED.