Ilustrasi editor di ruang pemberitaan media. (pixabay/pixelcreatures) Mon, Sep 28, 2026 3:57 PM

Tak Sekadar Pemeriksa Ejaan, Editor Media Lokal Kini Jadi Penjaga dari Ancaman 'AI Slop'

Kehadiran Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) generatif di ruang redaksi kerap dipandang sebagai ancaman yang siap menggusur pekerjaan editor.

Bermodal kemampuan merapikan tata bahasa dalam hitungan detik, mesin AI seolah bisa mengambil alih tugas penyuntingan atau editing. 

Namun, benarkah profesi editor media lokal akan mati? Jawabannya, justru sebaliknya.

Peran editor justru menjadi semakin krusial. Sebab tidak lagi hanya sekadar 'polisi tata bahasa' atau penjaga PUEBI, melainkan sebagai penjaga gerbang kultural yang memastikan berita tetap memiliki ruh lokal dan tidak terjebak menjadi template kaku yang miskin makna.

Dalam konferensi virtual ACES: The Society for Editing baru-baru ini, terungkap kegelisahan baru di kalangan penulis dan editor yang disebut "flagxiety" atau kecemasan apabila karya mereka dituduh sebagai buatan AI. 

Associated Press (AP) bahkan memasukkan istilah 'AI slop' atau konten sampah ke dalam pembaruan buku panduan gaya penulisan mereka.

Ketakutan tersebut muncul, lantaran AI memiliki kecenderungan pola yang repetitif dan sangat mekanis. 

Morgan Strunsky, dari Leff Communications, mencontohkan bagaimana AI sering menggunakan tanda baca, seperti tanda pisah (em dash), secara berlebihan tanpa memahami ritme bahasa.

"Editor yang andal tahu bagaimana menempatkan tanda pisah yang sempurna untuk mempertegas gagasan dan benar-benar mengatur tempo layaknya sebuah orasi. Tapi, ketika AI generatif menggunakannya di setiap kalimat, itu menjadi masalah, dan kemungkinan besar menjadi indikasi penggunaan AI," ungkap Strunsky.

Sementara itu, mantan Direktur Copy Desk The New York Times, Merrill Perlman, turut menyoroti fenomena mesin sekadar meniru gaya bahasa manusia agar terlihat cerdas. 

"AI itu ingin terdengar pintar, kan? Dan model bahasa (LLM) menangkap hal ini lalu seolah berkata, 'Hei, aku ingin terdengar seperti penulis sungguhan di sini,'" ujarnya.

Kegagalan AI Membaca Konteks Lokal

Kelemahan terbesar AI saat ini ada pada ketidakmampuan memahami kontingensi komunikasi. Sebab, mesin beroperasi berdasarkan probabilitas statistik, menyusun kata demi kata yang paling sering muncul dalam data pelatihannya. 

Bagi ekosistem media lokal, hal tersebut merupakan kelemahan fatal bagi mesin, sekaligus kekuatan utama bagi editor manusia.

AI mungkin bisa memperbaiki struktur kalimat menjadi bahasa Indonesia baku dengan sangat cepat. Namun, AI tidak akan bisa menangkap nuansa sosiologis di balik sebuah peristiwa daerah. 

Bahkan, mesin tidak memahami sarkasme dari seorang narasumber lokal, tidak mengerti kearifan lokal yang disematkan dalam sebuah kutipan, dan tidak memiliki kepekaan terhadap isu sensitif di suatu daerah tertentu.

Apabila ruang redaksi sepenuhnya menyerahkan proses penyuntingan pada AI, maka yang dihasilkan hanyalah AI slop atau berita yang secara gramatikal sempurna, namun terasa hambar, kaku, dan kehilangan kedekatannya dengan pembaca lokal.

Mendefinisikan Peran Editor

Fenomena tersebut, tentunya membuat redaktur dan editor di media lokal perlu mendefinisikan ulang 'nilai tawar' mereka di ruang redaksi. 

Apabila seorang editor hanya berkutat pada urusan teknis, seperti membuang koma atau merapikan huruf kapital, maka pekerjaan repetitif itu akan dengan mudah digantikan mesin AI.

Leksikografer, Kory Stamper menegaskan esensi proses menyunting bukan tentang menegakkan aturan secara kaku, melainkan untuk menjembatani komunikasi.

"Editor adalah manusia yang berada di dalam lingkaran abstrak antara aktivitas menulis dan membaca, atau produksi dan distribusi konten. Editor berada di tengah-tengah itu semua, dan mereka tak tergantikan karena medium yang membentuk lingkaran besar ini adalah bahasa," katanya.

Tak hanya itu, ia menambahkan bahwa editor memiliki sentuhan yang tidak bisa direplikasi barisan kode algoritma.

Lantaran itu, ia meyakini, keingintahuan intelektual dan empati manusiawi yang membuat bahasa menjadi hidup.

"Saat kita mengedit, kita tidak sekadar memaksakan aturan layaknya fasis tanda baca. Kita sedang membantu penulis, pembaca, dan bahasa itu sendiri untuk saling terhubung," ujarnya. 

"Karena ketika kita membantu membuat koneksi tersebut, kita tidak sekadar memfasilitasi komunikasi; kita sebenarnya sedang memperkuat bahasa itu sendiri."