Pemred Suara.com, Suwarjono saat diskusi bertajuk Keberlanjutan Media dan Ekosistem yang digelar Local Media Summit di Hotel Mercure Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (12/8/2026). Thu, Aug 13, 2026 12:28 PM

Ubah Mindet! Media Lokal Harus Jadi 'Storyteller' Daerah di Era Digital

Perubahan lanskap media yang berlangsung cepat membuat industri pers, khususnya media lokal, dituntut untuk segera beradaptasi.

Pergeseran perilaku pembaca, perubahan platform distribusi, perkembangan teknologi, hingga meningkatnya biaya operasional redaksi menjadi tantangan yang harus dihadapi untuk menjaga keberlanjutan jurnalisme sekaligus bisnis media.

Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono, mengatakan tantangan industri media ke depan semakin berat. Karena itu, kolaborasi antarorganisasi media dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat ketahanan industri menghadapi perubahan ekosistem.

"Tantangan ke depan itu akan sangat berat. Makanya semua organisasi media yang sedang menghadapi isu sama yang berat ini kita ajak kolaborasi," ujar Suwarjono dalam diskusi bertajuk "Keberlanjutan Media dan Ekosistem" yang digelar dalam rangkaian Local Media Summit di Hotel Mercure Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (12/8/2026).

Menurut Suwarjono, perubahan ekosistem media terjadi di berbagai aspek, mulai dari teknologi, karakter pembaca, platform distribusi, hingga pola konsumsi konten. Kondisi tersebut membuat media tidak lagi dapat mengandalkan pola kerja dan strategi lama.

"Perubahan saat ini cepat sekali. Pembaca, platform, teknologi, dan kontennya juga berubah. Kita mau tidak mau all out, membuat sisi kita juga harus berubah," katanya.

Meski harus beradaptasi, Suwarjono menegaskan bahwa jurnalisme tetap menjadi prinsip utama yang tidak boleh ditinggalkan. Tantangannya, model bisnis konvensional yang selama ini menopang operasional redaksi semakin sulit dipertahankan.

Biaya produksi berita terus meningkat, sementara pendapatan dari iklan konvensional mengalami penurunan. Jika sebelumnya bisnis media mampu membiayai operasional redaksi secara mandiri, kondisi tersebut kini semakin sulit diwujudkan.

"Dulu jurnalisme menghidupi dan membiayai redaksi atau operasional. Sekarang mahal. Tidak bisa lagi menutupi biaya produksi, sementara pendapatan tidak mencukupi, sehingga jurnalisme hari ini kita yang membiayai," jelasnya.

Ketergantungan APBD Jadi Kerentanan Media Lokal

Selain tekanan terhadap model bisnis, kemandirian finansial menjadi salah satu persoalan utama media lokal.

Suwarjono mengungkapkan, ketergantungan media daerah terhadap anggaran pemerintah daerah atau APBD masih sangat tinggi, bahkan mencapai 90 persen.

Ketergantungan tersebut menjadi semakin rentan di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang berpotensi mengurangi belanja publikasi media.

Pengelola media lokal pun diminta tidak lagi menganggap anggaran pemerintah daerah sebagai sumber pendapatan yang akan selalu tersedia.

"Jadi siap-siap saja mungkin beberapa daerah tak ada anggaran untuk media lagi. Tahun ini sudah kecil dan tahun depan kemungkinan tidak ada lagi," tegasnya.

Sementara di tengah perubahan tersebut, media lokal juga menghadapi tekanan dari perubahan algoritma yang berdampak terhadap trafik website. 

Pada saat yang sama, penggunaan media sosial terus meningkat, terutama di kalangan Gen Z yang semakin terbiasa memperoleh informasi melalui platform seperti Instagram dan TikTok dibandingkan mengakses situs berita secara langsung.

Menurut Suwarjono, media tidak perlu memandang platform digital sebagai pesaing. Sebaliknya, platform tersebut harus dimanfaatkan sebagai sarana distribusi konten, menjangkau audiens baru, sekaligus membangun komunitas.

Diversifikasi pendapatan juga menjadi langkah yang dinilai penting. Suwarjono mendorong media memiliki setidaknya tiga hingga empat sumber pemasukan dari lini bisnis berbeda. Dengan begitu, operasional media tidak terlalu terdampak apabila salah satu sumber pendapatan mengalami penurunan.

Pemred Suara.com, Suwarjono
Pemred Suara.com, Suwarjono saat pemaparan materi dalam diskusi bertajuk Keberlanjutan Media dan Ekosistem yang digelar Local Media Summit di Hotel Mercure Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (12/8/2026).
Di tengah persaingan dengan media nasional dan derasnya konten media sosial, media lokal sebenarnya memiliki keunggulan yang sulit ditiru, yakni kedekatan dengan masyarakat dan persoalan di tingkat lokal.

Suwarjono menilai media lokal perlu keluar dari kebiasaan memproduksi berita dengan topik yang seragam. Persaingan yang hanya mengandalkan kecepatan dan jumlah publikasi justru membuat media sulit memiliki pembeda.

Padahal, kedekatan dengan isu lokal, tokoh, komunitas, dan budaya daerah merupakan kekuatan yang dapat menjadi keunggulan media lokal dibandingkan media nasional.

"Misalnya di Makassar ada 50 media, tapi 80 persen kontennya sama. Makanya tidak naik-naik, kecuali kontennya jelas berbeda dengan konten umum. Nah, media nasional sulit menang di isu lokal yang mendalam, tokoh dan budaya lokal. Jadi media lokal harus menjadi official storyteller of the region," papar Suwarjono.

Media Lokal Mulai Adopsi AI dan Perkuat Target Audiens

Upaya bertransformasi dan mencari model bisnis baru juga dirasakan para pengelola media lokal yang mengikuti Local Media Summit di Makassar.

Pengelola portal Info Sulawesi, Toto Sudarmongi, menilai materi mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memberikan perspektif baru dalam meningkatkan efisiensi kerja redaksi.

Menurut Toto, teknologi AI dapat membantu proses pengolahan informasi secara lebih efisien dengan tetap mempertahankan prinsip-prinsip jurnalisme.

"Melalui Local Media Summit, saya semakin memahami bagaimana memodifikasi dan mengembangkan berita dengan bantuan teknologi, terutama NotebookLM. Tampilannya lebih menarik, fiturnya lengkap, dan menurut saya sangat mudah diaplikasikan dalam pekerjaan sehari-hari di redaksi," ungkap Toto.

Ia mengatakan, penguasaan teknologi yang dibarengi pemahaman terhadap karakter audiens juga dapat membuka peluang kolaborasi lebih luas dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah. Salah satunya melalui produksi konten yang lebih spesifik dan berbasis komunitas.

Sementara itu, pengelola Info Kota Makassar, Ibnu Munsir, mendapatkan perspektif baru mengenai pentingnya menentukan target audiens secara lebih spesifik.

Menurutnya, pertumbuhan media digital tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya konten yang diproduksi. Media juga perlu membangun loyalitas pembaca dengan menghadirkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter audiens.

"Dari diskusi ini saya belajar bahwa penting menentukan sasaran audiens. Kalau kita tahu siapa pembacanya, kita bisa membuat konten yang lebih tepat dan punya peluang lebih besar untuk berkembang secara bisnis," katanya.