Aktivitas harian di dunia digital membuat kreator konten dan jurnalis muda menghadapi risiko keamanan yang semakin beragam. Tawaran sponsorship palsu, file APK berbahaya, doxing, hingga manipulasi wajah dan suara berbasis AI, menjadi sejumlah modus yang dibedah dalam sesi workshop atau "Pelatihan Keamanan Digital bagi Kreator Konten Muda" dalam rangkaian acara Gen Z Impact Fest 2026.
Sesi yang berlangsung paralel di salah satu ruangan di UC Hotel UGM, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026), ini menghadirkan Digital Journalist Advisor (DJA) International Media Support (IMS) Asep Saefullah selaku fasilitator, serta dua pemateri yaitu pendiri Celebrithink.com sekaligus trainer keamanan digital Reren Indranila, dan Executive Editor Suara.com sekaligus trainer cek fakta GNI Arsito Hidayatullah.
Pada intinya, sesi ini diarahkan pada kebutuhan praktis para kreator konten maupun pengelola media dalam melindungi aset digital. Pada bagian awal, Asep membuka sesi dengan menjelaskan perubahan lanskap bisnis media lokal.
Menurut Asep, penurunan pendapatan iklan digital dalam tiga tahun terakhir membuat media dan kreator konten perlu mencari sumber pendapatan baru melalui program, acara, serta kolaborasi komunitas. Kondisi tersebut menurutnya, membuat keamanan akun menjadi bagian mendasar dari keberlangsungan ekosistem digital.
"Materi Keamanan Digital atau Digital Security ini menjadi pilar paling dasar. Aset digital yang sudah dibangun bertahun-tahun dengan pengikut besar, jangan sampai hilang dalam sekejap hanya karena kelalaian elemen dasar siber," ujar Asep dalam pemaparannya di Gen Z Impact Fest, Sabtu (12/9/2026).
Di sesi materinya, Reren kemudian memetakan posisi kreator sebagai sasaran menarik bagi pelaku kejahatan siber. Menurutnya, kebiasaan mengunggah konten satu hingga tiga kali sehari menciptakan jejak digital yang terbuka. Apalagi akun dengan ribuan hingga jutaan pengikut, justru memiliki nilai ekonomi yang dapat memancing upaya pengambilalihan akun.
Salah satu modus yang disoroti ialah phishing berkedok tawaran sponsorship bernilai puluhan juta rupiah. Pelaku dapat mengirimkan berkas APK palsu atau dokumen Excel berbahaya yang disamarkan sebagai materi kerja sama. Reren juga sempat mengingatkan soal kasus "love scamming" berkedok lowongan kerja customer service di kawasan Jalan Gito-Gati, Sleman, beberapa waktu lalu.
Ancaman lainnya datang melalui doxing serta manipulasi AI. Data seperti NIK, alamat, nomor kontak, bahkan foto personal lama, dapat disebarkan orang tanpa izin. Lebih jauh, teknologi deepfake dan voice cloning pun kemudian membuka kemungkinan pemalsuan wajah atau suara, untuk menipu korban maupun orang di sekitarnya.
"Lima pilar perlindungan diri digital yang perlu diperhatikan adalah: kata sandi unik dan panjang, autentikasi dua faktor, pemisahan identitas email, kontrol informasi pribadi, serta delay publishing dan refleksi tiga detik sebelum mengunggah konten sensitif," papar Reren memberikan tips dalam sesi tersebut.

“Gunakan passphrase, rangkaian empat sampai lima kata acak yang membentuk frasa panjang. Mudah diingat oleh pemilik, namun sangat sulit dibobol oleh mesin (dengan metode) brute-force," ujar Arsito saat memberikan contoh pengamanan akun di Gen Z Impact Fest 2026.
Arsito juga menekankan pentingnya verifikasi sebelum transaksi dan publikasi. Rekening bank calon mitra misalnya, antara lain dapat diperiksa melalui CekRekening.id; sementara foto atau video bisa ditelusuri menggunakan fitur reverse image search seperti Google Lens. Serupa, pemeriksaan metadata dengan Exif Viewer juga dapat membantu menguji informasi mengenai waktu, tanggal, dan lokasi pembuatan foto.
Penerapan protokol tersebut turut dibahas ketika Reren mengajak salah satu peserta untuk membagikan pengalamannya. Dalam peliputan aksi massa di Yogyakarta, ia mengaku melakukan kurasi materi sebelum mengunggahnya ke media sosial. Jeda publikasi digunakan untuk mengurangi risiko doxing serta menjaga keselamatan jurnalis dan narasumber.
"Jangan memasang nomor telepon pribadi yang terhubung dengan akun perbankan atau e-wallet di bio media sosial. Saat meliput demo, lakukan kurasi dulu, mana materi yang aman diunggah,” ujar Reren menegaskan pentingnya kontrol informasi pribadi.
Bagi kreator dan jurnalis yang bekerja di ruang publik, delay publishing akhirnya menjadi lebih dari sekadar strategi distribusi konten. Jeda beberapa menit dapat memberi kesempatan untuk memeriksa informasi, menyembunyikan data sensitif, mengamankan posisi fisik, serta mempertimbangkan dampak publikasi.
Lebih jauh, di tengah eskalasi ancaman phishing, doxing, dan deepfake, refleksi tiga detik sebelum menekan tombol unggah, pada akhirnya menjadi bagian dari langkah keselamatan digital itu sendiri.
© 2026 SUARA.COM - ALL RIGHTS RESERVED.